<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss"
	xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#"
	>

<channel>
	<title>Berita Riau Terkini Hari Ini &#8211; Adatpedia.com</title>
	<atom:link href="https://adatpedia.com/tag/riau/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://adatpedia.com/tag/riau/</link>
	<description>Informasi Masyarakat Adat Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Wed, 12 Apr 2023 17:31:53 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0</generator>

<image>
	<url>https://adatpedia.com/wp-content/uploads/2023/01/cropped-ADATPEDIA.com-logo-jadi-32x32.png</url>
	<title>Berita Riau Terkini Hari Ini &#8211; Adatpedia.com</title>
	<link>https://adatpedia.com/tag/riau/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">214169208</site>	<item>
		<title>Keturunan Patih Nang Sabatang</title>
		<link>https://adatpedia.com/keturunan-patih-nang-sabatang/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Editor]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 12 Apr 2023 17:31:51 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Narasi]]></category>
		<category><![CDATA[Adatpedia]]></category>
		<category><![CDATA[Hutan Adat]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
		<category><![CDATA[Riau]]></category>
		<category><![CDATA[Talang Mamak]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://adatpedia.com/?p=2091</guid>

					<description><![CDATA[Saya melewati beberapa hari di rumah Gundok. Kami kerap berdiskusi tentang kepemimpinan adat. Menurut Gundok, kepemimpinan adat, seperti yang diuraikan sebelumnya, memang dipimpin oleh Tiga Payung Sekaki, yakni: Batin Talang Parit, Batin Talang Perigi dan Patih Durian Cacar. Dulunya, kisah Gundok, orang Talang Mamak berkembang dari ayah yang berasal dari Minangkabau. Orang Talang Mamak menyebutnya [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Saya melewati beberapa hari di rumah Gundok. Kami kerap berdiskusi tentang kepemimpinan adat. Menurut Gundok, kepemimpinan adat, seperti yang diuraikan sebelumnya, memang dipimpin oleh Tiga Payung Sekaki, yakni: Batin Talang Parit, Batin Talang Perigi dan Patih Durian Cacar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dulunya, kisah Gundok, orang Talang Mamak berkembang dari ayah yang berasal dari Minangkabau. Orang Talang Mamak menyebutnya Patih Nang Sabatang. Di Talang Mamak, Patih Nang Sabatang memiliki tiga orang anak. Tiga anak itulah yang lantas berkembang menjadi orang Talang Mamak. Mereka dikenal dengan sebutan Patih Nang Betiga.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Patih Nang Betiga lantas dikenal dengan Payung Tiga Sekaki. Mereka adalah para patih yang berkedudukan di Durian Cacar, Talang Perigi dan Talang Parit. Patih Durian Cacar dikenal dengan Patih Sebunga, Patih Talang Perigi dikenal dengan sebutan Patih Sebesi dan Patih Talang Parit dikenal dengan sebutan Patih Kelopak.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketiganya menunjukkan tingkatan mulai dari anak termuda hingga yang paling tua. Menurut Gundok, pendahulunya di Talang Mamak memercayai bahwa Patih Sebunga adalah anak yang paling muda dan Patih Kelopak adalah anak yang paling tua. Ketiga anak Patih Nang Sabatang lantas menduduki wilayahnya masing-masing.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Rapan, di Talang Perigi mengakui bahwa keturunan orang Talang Mamak berasal dari ayah orang Minangkabau. Kedekatan pertalian darah ini membuat sebagian besar adat istiadat orang Talang Mamak memiliki kemiripan dengan adat istiadat orang Minangkabau.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam Tambo Adat Minangkabau, Patih Nang Sabatang dikenal dengan sebutan Parpatih Nan Sabatang. Selain itu, di Minangkabau juga dikenal adanya Parpatih Ketemanggungan. Kedua Parpatih ini lantas memiliki keturunan dan membentuk adat istiadat sendiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Kalau ibu berasal dari keturunan Arab, bernama Putri Indah Jalilah,” tandas Rapan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sejauh ini, belum terkonfirmasi keturunan orang Talang Mamak dari garis ibu. Kecuali apa yang disebutkan Rapan, ada pula yang menyebut ibu orang Talang Mamak berasal dari Johor, sebagian lagi mengatakan dari Malaka.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Salah satu catatan mutakhir menyebut: Patih Nang Sabatang menikahi Putri Indah Jalilah, anak Raja Langka (sekarang di Johor, Malaysia) dan cucu anak Adam-Hawa yang bungsu. Dengan demikian Patih Nang Sabatang menikahi keponakannya sendiri [6].</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kembali pada Payung Tiga Sekaki, dua di antaranya kemudian dikenal dengan sebutan Batin, sementara di Durian Cacar, pemerintahan adat masih dikepalai oleh Patih.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tak ada penjelasan perubahan itu. Saya mencoba mengonfirmasi sejarah itu kepada literatur tertulis, juga tidak ditemukan. Saya bahkan menemui Batin Talang Parit, Irasan, juga tak ada informasi. Saya juga tak menjumpai informasi itu dari Rapan, Batin Talang Perigi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menurut mereka, perubahan itu sudah terjadi sejak lama. Budaya oral orang Talang Mamak tidak merekam oleh siapa dan kapan perubahan nama itu terjadi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dongeng sejarah yang saya dengar dari beberapa sumber informasi menyebut ada tiga versi sejarah perubahan nama tersebut. Versi pertama mengisahkan pertemuan Patih Sebunga (Patih Durian Cacar) dengan Datu Bagigi Tunggal. Sang Datu kemudian merubah nama gelar untuk Patih Kelopak dan Patih Sebesi menjadi Batin, tapi tidak merubah penyebutan untuk Patih Sebunga. Kendati Patih Sebunga adalah saudara yang paling kecil, tapi Datu Bagigi Tunggal memercayai bahwa kepercayaan Langkah Lama akan terus dipertahankan oleh Sang Adik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Beberapa kali istilah Langkah Lama muncul dalam catatan ini. Saya akan menjelaskan Langkah Lama dalam catatan tersendiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Versi kedua menyebut, gelar Patih Sebunga tidak diganti karena telah dimandatkan oleh ayah mereka, Patih Nang Sabatang. Menurut sumber itu, Patih Nang Sabatang memerintahkan dua anak pertamanya menjadi Batin dan menetapkan gelar Patih bagi anak bungsunya itu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sumber informasi ini tidak menyebutkan alasan peruahan nama yang dilakukan Patih Nang Sabatang. Sumber ini hanya menyebut bahwa kejadian itu sudah berlalu dan tidak ada pertinggal yang dituliskan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Versi ketiga menyebut perubahan ini berkait dengan keinginan Raja Indragiri menangkap gajah putih. Raja telah meminta Patih Sebesi dan Patih Kelopak mencari dan menangkap gajah putih. Keduanya lantas menunaikan perintah Raja.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di dalam hutan, keduanya berhasil menangkap gajah putih. Gajah itu masuk ke dalam lubang perangkap. Agar gajah tak lari, maka lubang itu ditutup dengan kain bewarna kuning dan hitam.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Patih Sebesi dan Patih Kelopak kembali ke kampungnya masing-masing. Mereka memberitakan kepada Raja bahwa gajah putih telah ditangkap dan sekarang berada dalam lubang bertutup kain kuning dan hitam.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun ketika Raja mendatangi lubang dimaksud, Raja mendapati lubang itu kosong, tidak ada gajah putih. Sementara kain penutup bewarna kuning dan hitam masih berada pada tempatnya, bahkan tidak menunjukkan tanda kerusakan. Gajah itu telah melarikan diri secara ajaib. Hal ini membuat Raja marah. Kemarahan Raja membuat Patih Sebesi dan Patih Kelopak tak lagi menyandang gelar Patih, mereka menjadi Batin.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Terlepas dari berbagai versi itu, Ketiga Patih, lanjut Gundok, memiliki anak dan keturunan. Keturunan mereka menyebar sepanjang wilayah adat orang Talang Mamak yang kini dikenal sebagai Kabupaten Indragiri Hulu. Sebagian lagi mereka telah bermigrasi hingga ke Kabupaten Tebo di Jambi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Keturunan Patih Durian Cacar, lanjutnya, menyebar hingga ke Batang Tenaku, Rantau Langsat, Dinala Pasak Melintang, Tujuh Buah Tangga, Ampang Delapan dan Anak Talang. Sementara itu, keturunan Batin Talang Perigi menyebar hingga ke Kedabu, Pembubung, Talang Siambul dan Dua Puluh Patar. Keturunan Batin Talang Parit menyebar melewati wilayah-wilayah Talang Jerinjing, Talang Sungai Limau, Muke Muke, Belimbing dan Sungai Jirak.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Masing-masing wilayah kemudian membentuk pemerintahan adat sendiri. Karena kebutuhan akan ruang semakin meningkat, masing-masing kebatinan memperluas wilayah pemerintahan adatnya. Penyebaran ini dilakukan oleh anak keturunan selanjutnya, yakni para cicit dari Payung Tiga Sekaki.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di Batang Tenaku, wilayah adat meluas hingga ke wilayah Sipang dan Alim. Di Rantau Langsat meluas hingga ke wilayah Talang Lakat dan Usul. Semuanya berada dalam satuan struktur adat di bawah kepemimpinan Patih Durian Cacar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sementara itu, pada pemerintahan Kebatinan Talang Perigi, penyebaran wilayah dilakukan hingga Pembubung dan Talang Siambul. Dari Pembubung, muncul dua kebatinan lain, yakni di wilayah Menggayahan dan Tenaku Kecik. Dan dari Talang Siambul menyebar ke wilayah Ringin dan Lemang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada Kebatinan Talang Parit juga terjadi perluasan wilayah kebatinan. Kebatinan Muke Muke menyebar hingga ke Pejangki dan Belingan. Ditambah dengan perluasan Kebatinan Belimbing ke wilayah Siberida.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pertanyaan pertama yang mungkin muncul adalah, mengapa ada Raja Indragiri dalam struktur tersebut? Hal ini akan dijelaskan nanti. Struktur Kebatinan Masyarakat Adat Talang Mamak sesungguhnya hanya yang berada dalam kotak bergaris tebal bewarna biru tua. Di dalam kotak itu, terlihat jelas struktur Kebatinan yang merujuk pada silsilah keturunan orang Talang Mamak.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Kami hanya mengakui batin yang menjunjung tinggi garis keturunan, curaian dan sejarah,” ungkap Irasan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Curaian, dalam hal ini adalah penuturan adat yang disampaikan pihak-pihak yang berkompeten seperti Batin atau Patih. Curaian adat bukan hanya berisi sejarah keturunan, tapi lebih jauh dari itu, berisi pula petatah petitih yang rumit. Kadang, mencoba mengerti curaian adat Talang Mamak mengharuskan saya mengulang-ulang kembali rekaman suara, atau bertanya ulang pada sumber bersangkutan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam bahasa Indonesia, kata curaian berarti paparan yang sangat jelas, sangat terang. Di Talang Mamak, arti kata curaian lebih dalam, dan mendetil tentang keturunan berikut dengan pantun adat yang rumit.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Catatan kaki</p>



<p class="wp-block-paragraph">6. Akhwan Binawan , Budy Utamy, Gilung, Muntaza dan Pengurus Daerah AMAN INHU, dalam Identitas Orang Talang Mamak Dan Wilayah Adatnya, dipublikasikan AMAN INHU tahun 2015.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>*Tulisan ini merupakan bagian dari Buku Talang Mamak di Tepi Zaman karya Syafrizaldi Jpang, yang diterbitkan oleh AsM Law Office bekerjasama dengan Rights and Resources Initiative pada 2020. Adatpedia.com akan menerbitkan 10 seri dalam buku tersebut secara bersambung</strong>&nbsp;<strong>setiap minggu</strong>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">2091</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Hierarki Penata Teritori</title>
		<link>https://adatpedia.com/hierarki-penata-teritori/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Editor]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 21 Mar 2023 11:02:40 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Narasi]]></category>
		<category><![CDATA[Adatpedia]]></category>
		<category><![CDATA[Hutan Adat]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
		<category><![CDATA[Pilihan Editor]]></category>
		<category><![CDATA[Riau]]></category>
		<category><![CDATA[Talang Mamak]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh Adat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://adatpedia.com/?p=2075</guid>

					<description><![CDATA[Di rumah Batin Gundok, Sagaf menyampaikan pengantar melalui pepatah adat. Saya tak begitu paham yang dia ucapkan, tapi secara keseluruhan saya memahami, Sagaf sedang bertemu dengan pucuk pimpinannya. Gundok tersenyum, dia membalas pengantar Sagaf. Lagi dengan pantun dan pepatah yang sulit dimengerti. Intinya, Gundok menyampaikan bahwa dia dan keluarganya sangat senang menerima saya sebagai tamu [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Di rumah Batin Gundok, Sagaf menyampaikan pengantar melalui pepatah adat. Saya tak begitu paham yang dia ucapkan, tapi secara keseluruhan saya memahami, Sagaf sedang bertemu dengan pucuk pimpinannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Gundok tersenyum, dia membalas pengantar Sagaf. Lagi dengan pantun dan pepatah yang sulit dimengerti. Intinya, Gundok menyampaikan bahwa dia dan keluarganya sangat senang menerima saya sebagai tamu mereka.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saya berpelukan dengan Gundok. Kami pernah bertemu beberapa kali dalam kesempatan lain. Namun baru kali ini saya punya kesempatan menyambangi rumahnya. Saya berbasa-basi, menanyakan kabar keluarga dan kesehariannya. Gundok tampak senang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kami lantas berbicara tentang jauhnya perjalanan yang harus saya tempuh. Dari Pekanbaru, Rengat mencapai jarak lebih dari 200 kilometer. Dari Rengat, saya harus menempuh jalan aspal bagus menuju Belilas, lalu melewati pusat Kecamatan Rakit Kulim sebelum singgah di rumah Sagaf dan sampai di rumah Batin Gundok.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dia tersenyum. Ya, jawabnya, jalanan di sini tidak sama seperti di kota yang beraspal hitam. Di Ampang Delapan, jalan tanah kuning yang dikeraskan sudah sangat menguntungkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Berkait jalan, saya dan Gundok menyambangi Hutan Adat Durian Di Rawang beberapa kilometer dari rumahnya beberapa hari kemudian. Dalam perjalanan kami menuju hutan adat, saya mendapati bahwa jalan di kampung Gundok memang mestinya menjadi isu utama. Betapa tidak, tak satupun jalan yang kami lewati yang tersentuh pengerasan jalan. Bahkan tak juga kerikil. Yang ada hanyalah bekas rambahan dan pembukaan jalan baru. Sama sekali belum ada pengerasan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kami berhenti di beberapa titik. Hujan dan air limpasan agaknya telah menyeret tanah sehingga membentuk lubang menganga. Beruntung karena saya membawa kendaraan lapangan Land Rover. Jadi tak banyak kendala di jalan. Sahabat saya, Otoy, mengendalikan mesin tua keluaran tahun 1981 itu dengan lincah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kembali ke rumah Gundok, dia masih bercerita tentang pertemuan terakhir kami. Saya menangkap kesan, Gundok adalah seorang yang cerdas. Dia bisa mengingat detil pembicaraan kami tentang janji saya untuk datang ke kampungnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Untung di antar Sagaf. Kalau tidak, mungkin tidak saya terima,” canda Gundok.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sagaf tersenyum. Dia menimpali, kalau tidak, mungkin bisa kena usir. Kami tertawa bersama. Tapi saya masih mencoba menyesuaikan gelombang pembicaraan. Sagaf beberapa kali menyela pembicaraan itu dengan sikap hormat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada akhirnya, Sagaf pamit pulang karena hari telah menjelang petang. Dia meninggalkan saya dan Otoy di rumah Gundok. Istri Gundok tersenyum bersama seorang anaknya. Kami melepas kepergian Sagaf.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Rumah Gundok, agak mirip rumah Sagaf di bagian dalam. Hanya ada sebuah ruangan besar seukuran sembilan kali sembilan meter per segi. Rumah itu dilengkapi sebuah beranda yang terletak persis di depan pintu masuk. Di sebelah dalam, ada sebuah ruang tak bersekat berukuran tiga kali sembilan meter per segi. Ruang itu hanya dibatasi sebuah balok kayu yang posisinya lebih tinggi sekitar sepuluh senti meter dari lantai.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Ini balok pembatas,” kata Gundok.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ruangan yang dibatasi balok itu hanya boleh ditempati oleh kaum laki-laki. Saya memerhatikan sepanjang tinggal di rumahnya, tak sekalipun istri Gundok melewati batas itu untuk duduk bersama kami. Kalaupun kami tengah berdiskusi, istrinya memilih untuk duduk di bagian belakang yang dekat dengan sebuah kamar, atau duduk di posisi yang dekat dengan pintu belakang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menurut Gundok, orang Talang Mamak kerap berkumpul malam hari. Biasanya pembicaraan seputar adat dilakukan di rumah batin. Dan, hanya ruang depan yang dibatasi balok kayu itu yang digunakan untuk duduk. Perempuan tak pernah duduk di dalam ruang berpembatas itu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saya beruntung karena diantarkan oleh Sagaf. Kendati saya sesungguhnya menuai janji dengan Gundok untuk bertandang ke rumahnya. Tapi secara adat, saya tidak mungkin datang sendiri langsung ke rumah Gundok.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Gilung telah mengatur supaya saya diantarkan oleh Sagaf, kakaknya. Mengapa Sagaf? Karena dalam struktur Kebatinan Adat Ampang Delapan, Sagaf menjabat sebagai Pemangku atau Mangku, posisinya persis di bawah Batin. Saya mungkin saja diantarakan oleh Ketuha Adat ke rumah Batin Gundok, tapi Gilung beranggapan bahwa akan lebih baik saya diantar langsung oleh Pemangku.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Begitulah. Orang Talang Mamak hidup dalam hierarki kepemimpinan oligarki [5]&nbsp;yang kuat. Mungkin bila mana saya tidak diantarkan Sagaf, pembicaraan dengan Gundok akan berlangsung kering dan tertutup. Artinya, akan sulit menggali informasi tentang masalah yang berkaitan dengan adat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Gundok mengonfirmasi hal tersebut. Menurutnya, segala sesuatu yang dibawa bawahannya – Mangku atau Manti – adalah hal yang bersifat final. Jikapun ada pertimbangan lain, itu adalah hak prerogatif dirinya sebagai Batin.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Demikian pula halnya dengan struktur di bawah Mangku atau Manti, Ketuha Adat datang pada Mangku dan Manti setelah semua urusan diselesaikan. Jikapun ada yang belum beres, maka Mangku atau Manti akan membantu menyelesaikan sebelum dibawa ke tingkat Batin.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Kami para Batin hanya menerima buah masak,” katanya berkias.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saya dan Gundok terlibat pembicaraan panjang dan serius. Struktur Kebatinan yang disampaikan Gundok saya konfirmasi ke beberapa Batin lain guna mendapat masukan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi Gundok, struktur kepemimpinan adat di wilayahnya memberikan keleluasaan bagi para pemimpin di bawah Batin untuk mengembangkan pertimbangan-pertimbangan yang arif dan adil. Dia percaya, para pengisi struktur pemerintahan batin itu memudahkan pengambilan keputusan. Karena tidak semua persoalan akan sampai ke tangan Batin, kecuali untuk persoalan-persoalan pelik yang membutuhkan penerawangan lebih lanjut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Penerawangan, saya ingin sedikit berbagi soal ini. Penerawangan dalam pengertian bebas berarti sesuatu yang dilakukan oleh seseorang untuk melihat masa depan. Ini agak mirip dengan ramalan, tapi terawangan sepertinya bersifat lebih magis.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ya, Gundok membenarkan. Penerawangan yang dia lakukan adalah untuk meminta pendapat arwah leluhurnya. Setidaknya, sedikit bocoran untuk masa depan dari keputusan yang dia ambil.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Orang Talang Mamak, hidup dalam tuntunan arwah leluhur. Kami percaya leluhur kami terus membantu,” kata Gundok.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Batin, lanjut dia, dibantu oleh dukun dan orang pintar yang akan menerawang dampak dari berbagai keputusan yang akan dia ambil. Dukun dan orang pintar memiliki kemampuan untuk menelisik masa depan. Dengan itu, Gundok merasa percaya diri memutuskan berbagai macam hal yang sampai ke rumahnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketuha Adat diangkat oleh masyarakat berbasis keluarga tertentu. Mereka memimpin para Anak/Bapak. Kelompok ini disebut dengan Ninik Mamak. Ninik Mamak adalah para pewaris dari keluarga-keluarga tertentu yang memiliki hubungan darah dan kekerabatan sangat dekat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lagi, ini sedikit ada persamaan dengan fungsi Ninik Mamak di Minangkabau. Ninik Mamak di Mingkabau adalah sekumpulan orang yang memiliki hak pengambilan keputusan bersama dalam keluarga. Para Ninik Mamak biasanya dipimpin seorang Datuk.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kecuali itu, di Batang Tinaku agak berbeda. Pimpinan tertinggi disebut Muncak. Di bawahnya ada Mangku dan Manti. Ada juga dukun sebagai pembantu Muncak. Sementara Anak Bapak dan Ketuha Adat tidak ada, digantikan dengan Ninik Mamak.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Masing-masing Batin, menginduk pada salah satu Batin yang termasuk dalam Payung Tiga Sekaki. Gundok sendiri menginduk pada Patih Durian Cacar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Diskusi kami terus berkembang. Kadang saya melipir menanyakan keseharian Gundok. Kami terus mencoba mengakrabkan diri satu sama lain. Otoy terlibat pembicaraan ini dengan seru. Dia juga mengisahkan perjalanan orang tuanya ke Talang Mamak di zaman dulu. Menurut Otoy, kisah perjalanan orang tuanya itu telah menjadi inspirasi tersendiri buat dirinya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada akhirnya kami lelah. Tikar pandan yang telah membentang sebagai alas duduk kini telah berubah menjadi alas punggung. Kami merebahkan diri dalam lamun ketika malam menyergap.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Catatan Kaki:</p>



<p class="wp-block-paragraph">5. Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia, oligarki adalah pemerintahan yang dijalankan oleh beberapa orang yang berkuasa dari golongan atau kelompok tertentu. Sementara istilah oligarki mengandung pengertian sebentuk pemerintahan yang kekuasaan politiknya secara efektif dipegang oleh kelompok elit kecil dari masyarakat, baik dibedakan menurut kekayaan, keluarga, atau militer.</p>



<p class="wp-block-paragraph">(Bersambung)</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>*Tulisan ini merupakan bagian dari Buku Talang Mamak di Tepi Zaman karya Syafrizaldi Jpang, yang diterbitkan oleh AsM Law Office bekerjasama dengan Rights and Resources Initiative pada 2020. Adatpedia.com akan menerbitkan 10 seri dalam buku tersebut secara bersambung</strong>&nbsp;<strong>setiap minggu</strong>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">2075</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Orang Talang Mamak vs Perusahaan Perkebunan Sawit</title>
		<link>https://adatpedia.com/orang-talang-mamak-vs-perusahaan-perkebunan-sawit/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Editor]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 09 Mar 2023 10:08:02 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Narasi]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
		<category><![CDATA[Riau]]></category>
		<category><![CDATA[Talang Mamak]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://adatpedia.com/?p=2034</guid>

					<description><![CDATA[TALANG MAMAK merupakan salah satu masyarakat adat asli di Provinsi Riau. Mereka terdiri dari 29 kebatinan dan tersebar di 5 kecamatan di Indragiri Hulu (Rakit Kulim, Batang Gangsal, Batang Cenaku, Seberida dan Rengat Barat), Riau.&#160; Lokasinya berdekatan dengan Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT). &#160;Kehidupan mereka bergantung pada sumber daya hutan dan mengolah sumber daya tersebut [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">TALANG MAMAK merupakan salah satu masyarakat adat asli di Provinsi Riau. Mereka terdiri dari 29 kebatinan dan tersebar di 5 kecamatan di Indragiri Hulu (Rakit Kulim, Batang Gangsal, Batang Cenaku, Seberida dan Rengat Barat), Riau.&nbsp; Lokasinya berdekatan dengan Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT). &nbsp;Kehidupan mereka bergantung pada sumber daya hutan dan mengolah sumber daya tersebut untuk dikonsumsi secara ego-keluarga maupun komunal.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Talang Mamak mengaku masih memiliki hubungan dengan Minangkabau. Patih Nan Sebatang dari Minangkabau dipercaya memiliki 3 orang anak yang kelak dikenal dengan nama Patih Nan Betiga. Mereka dikenal sebagai Payung Tiga Sekaki; Patih Sebunga berkedudukan di Durian Cacar, Patih Besi berkedudukan di Talang Parit, dan Patih Kelopak berkedudukan di Talang Perigi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Keturunan Patih Durian Cacar menyebar hingga ke Batang Tenaku, Rantau Langsat, Dinala Pasak Melintang, Tujuh Buah Tangga, Ampang Delapan dan Anak Talang. Keturunan Batin Talang Perigi menyebar ke Kedabu, Pembubung, Talang Siambul dan Dua Puluh Patar. Sedangkan Keturunan Batin Talang Parit menyebar melewati wilayah Talang Jerinjing, Talang Sungai Limau, Mukemuke, Belimbing dan Sungai Jirak.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Orang Talang Mamak menganut kepercayaan LANGKAH LAMA, yakni kepercayaan mereka terhadap adanya Allah Sang Pencipta dan Penguasa alam semesta dan Nabi Muhammad sebagai utusanNya.&nbsp; Namun LANGKAH LAMA tidak menjalankan syari’at sebagaimana yang dituntun Al Qur’an dan hadist, sebagaimana yang dipercaya dan diamalkan penganut ISLAM. Mereka menyebut ISLAM sebagai LANGKAH BARU.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hutan laksana rumah kedua bagi orang Talang Mamak.&nbsp; Keberadaannya menjadi penunjang sistem kehidupan. Tapi dalam 20 tahun terakhir, kehidupan orang Talang Mamak terancam karena hutan banyak dikonversi menjadi perkebunan sawit skala besar.&nbsp; Kini tak banyak hutan tersisa di lingkar kehidupan orang Talang Mamak.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam sistem mata pencaharian, awalnya masyarakat adat Talang Mamak melakukan kegiatan berburu dan meramu. Kemudian berkembang dan merubah sistem tersebut dengan melakukan perkebunan dan pertanian skala kecil.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Karet merupakan komoditas utama. Orang Talang Mamak menggunakan sistem tumpang sari dalam berkebun karet, yaitu menanam padi dan tanaman semusim semasa pohon karet masih kecil. Namun saat ini, sawit telah menjadi pilihan utama.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi orang Talang Mamak, kerajinan tangan adalah kebiasaan yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.&nbsp; Kini, kerajinan tangan sudah banyak yang ditinggalkan seiring dengan minimnya sumber bahan baku.&nbsp; Hutan merupakan satu-satunya tempat dimana mereka dapat mengumpulkan bahan alam untuk membuat kerajinan tangan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kaum perempuan Talang Mamak mewarisi pengetahuan dan kemampuan membuat beragam kerajinan tangan untuk keperluan rumah tangga.&nbsp; Waktu senggang di malam hari kerap dimanfaatkan untuk berkumpul dan membuat kerajinan tangan.&nbsp; Belakangan, hal itu tak banyak dilakukan seiring dengan serbuan teknologi dan tontotan tv.</p>



<figure class="wp-block-image size-full"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1132" height="1600" src="https://adatpedia.com/wp-content/uploads/2023/03/WhatsApp-Image-2023-03-09-at-11.05.48-2.jpeg" alt="" class="wp-image-2037" srcset="https://adatpedia.com/wp-content/uploads/2023/03/WhatsApp-Image-2023-03-09-at-11.05.48-2.jpeg 1132w, https://adatpedia.com/wp-content/uploads/2023/03/WhatsApp-Image-2023-03-09-at-11.05.48-2-1087x1536.jpeg 1087w" sizes="(max-width: 1132px) 100vw, 1132px" /></figure>



<figure class="wp-block-image size-full"><img decoding="async" width="1131" height="1600" src="https://adatpedia.com/wp-content/uploads/2023/03/WhatsApp-Image-2023-03-09-at-11.05.49.jpeg" alt="" class="wp-image-2039" srcset="https://adatpedia.com/wp-content/uploads/2023/03/WhatsApp-Image-2023-03-09-at-11.05.49.jpeg 1131w, https://adatpedia.com/wp-content/uploads/2023/03/WhatsApp-Image-2023-03-09-at-11.05.49-1086x1536.jpeg 1086w" sizes="(max-width: 1131px) 100vw, 1131px" /></figure>



<figure class="wp-block-image size-full"><img decoding="async" width="1231" height="880" src="https://adatpedia.com/wp-content/uploads/2023/03/1-1.png" alt="" class="wp-image-2085"/></figure>



<figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="1245" height="853" src="https://adatpedia.com/wp-content/uploads/2023/03/2.png" alt="" class="wp-image-2081"/></figure>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Kronologi Orang Talang Mamak vs Perusahaan Perkebunan Sawit</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>1984: </strong>PT Inecda Plantation mendapat persetujuan prinsip pengembangan kelapa sawit dari Kementerian Pertanian RI.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>1987: </strong>Terlihat aktivitas pembukaan lahan di sekitar wilayah adat Talang Parit. &nbsp;1996 baru diketahui aktivitas itu dilakukan PT Inecda Plantation untuk membangun perkantoran, perumahan dan perkebunan kelapa sawit.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Agustus 1996: </strong>Perwakilan Komunitas Talang Parit mengajukan tuntutan kerjasama PIRBUN (Inti/Plasma) kepada PT Inecda Plantation, berikut menuntut agar status lahan tetap menjadi wilayah adat Talang Parit. &nbsp;Perusahaan menawarkan pembangunan kebun Plasma pola KKPA seluas 866 hektar dengan areal di luar kebun yang telah dibangun perusahaan. Tuntutan tidak terealisasi.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>2001; </strong>Perusahaan mengajukan pilihan tawaran: <strong><em>Pertama</em></strong>, Perusahaan membangunkan plasma dengan pola KKPA seluas 250 ha dengan syarat plasma tersebut berada di luar HGU, <strong><em>atau kedua</em></strong>, Perusahaan menyerahkan 25 ribu bibit sawit kepada masyarakat, <strong>atau ketiga,</strong> Perusahaan memberikan uang tunai namun jumlahnya tidak disebutkan.Perwakilan komunitas Talang Parit dan Talang Sungai Limau menolak semua tawaran dan meminta Perusahaan mengembalikan ulayat adat mereka. Komunitas Luak Talang Parit menyampaikan surat kepada Perusahaan agar tidak melakukan kegiatan di wilayah yang disengketakan.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>2002-2003: </strong>Pemerintah Daerah (Pemda) INHU memfasilitasi upaya penyelesaian, upaya berakhir tanpa hasil.Sementara,ada oknum elit masyarakat yang membangun kesepakatan sepihak dengan Perusahaan.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>22 April 2003: </strong>PT Inecda Plantation mengeluarkan surat pernyataan bahwa setelah habis masa berlaku HGU, maka lahan dan pemanfaatannya di kembalikan kepada Pemda INHU.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>20 April 2004: </strong>Masyarakat Talang Sungai Parit mengirim surat permohonan kepada Bupati INHU agar dapat mengeluarkan surat penguasaan tanah kepada masyarakat Talang Sungai Parit setelah HGU PT Inecda Plantation berakhir.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>18 Mei 2004: </strong>Bupati INHU menyurati PT Inecda Plantation perihal tindak lanjut tuntutan masyarakat Desa Talang Sungai Limau dan Desa Talang Sungai Parit.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>2004: </strong>Komunitas Talang Parit mendatangi DPRD INHU meminta mencarikan solusi.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Agustus 2005: </strong>Komunitas Adat Luak Talang Parit menyurati kembali Bupati INHU.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Agustus 2006: </strong>Perusahaan menolak permintaan Batin Adat Talang Parit untuk menerima masyarakat setempat sebagai pekerja.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>2006: </strong>Perusahaan menyatakan bersedia membangunkan plasma untuk masyarakat dengan pola KKPA di luar HGU. Masyarakat menolak karena hal ini tidak menjawab permasalahan berikut terbatasnya lahan yang dimiliki oleh masyarakat.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>2014: </strong>Komunitas Luak Talang Parit dimediasi oleh Komnas HAM. Upaya mediasi sebatas pertemuan dengan Pemda INHU, tidak ada upaya lanjutan.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>November 2018: </strong>Humas PT Inecda Plantation meminta para Batin untuk menandatangani hasil pemetaan/pengukuran ulang lahan perkebunan yang dilakukan oleh Badan Pertanahan Nasional (BPN) dan PT Inecda Plantation. Batin Talang Parit dan Batin Sungai Limau tidak bersedia menandatangani dokumen tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Desember 2020</strong>:</p>



<ul class="wp-block-list">
<li>PT Inecda Plantation melakukan perpanjangan HGU. Kepala Desa Talang Parit menolak menandatangani surat persetujuan.</li>



<li>PT Inecda Plantation gencar melakukan berbagai strategi pendekatan kepada masyarakat, salah satunya melalui bantuan benih ikan.</li>



<li>Komunitas Adat Luak Talang Parit mulai didampingi oleh koalisi masyarakat sipil, selanjutnya disebut Tim Pendamping.</li>
</ul>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>19 Maret 2021: </strong>Komunitas Adat Luak Talang Parit menyampaikan keluhan resmi ke Sekretariat <em>Roundtable on Sustainable Palm Oil</em> (RSPO). Materi keluhan terkait dengan konflik lahan dengan PT Inecda Plantation.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>29 Juni 2021: </strong>Complain Panel (CP) RSPO menerima secara resmi keluhan Komunitas Adat Talang Parit. RSPO juga menyampaikan pilihan penyelesaian kasus melalui Penyelesaian Bilateral, dan atau melalui <em>Dispute Settlements Facility</em> (DSF).</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Juli 2021: </strong>Komunitas Adat Talang Parit menyetujui pilihan penyelesaian negosiasi bilateral. PT Inecda Plantation menolak kedua pilihan penyelesaian yang ditawarkan RSPO.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>17 November 2021</strong>: Tim Pendamping dan Komunitas Adat Luak Talang Parit mendatangi Sekretariat RSPO.&nbsp; Sementara menunggu hasil kerja CP, Sekretariat RSPO akan mengirimkan <em>independent investigator</em> ke lapangan.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>April 2022: </strong>Rights and Resources Initiative (RRI), International Land Coalition and Land Rights Now mengirim surat kepada Samsung C&amp;T Biofuel PTE Ltd (Perusahaan induk PT Inecda Plantation) untuk mendorong percepatan upaya penyelesaian. Samsung C&amp;T Biofuel PTE Ltd menyerahkan proses penyelesaian kepada PT Inecda Plantation. PT Inecda Plantation beralasan proses ini belum berjalan karena masih menunggu hasil proses litigasi gugatan pengadilan atas HGU mereka yang diajukan oleh komunitas masyarakat lain.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Mei 2022: </strong>CP RSPO meminta informasi kepada Lembaga Sertifikasi yang sebelumnya melakukan audit kepada PT Inecda Plantation untuk mendapatkan sertifikasi RSPO.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Juli 2022: </strong>Advocates for Publik Interest Law (APIL) asal Korea melakukan advokasi terkait dengan pelanggaran sosial dan lingkungan yang dilakukan oleh anak usaha S&amp;G Biofuel PTE Ltd di Provinsi Riau termasuk PT Inecda Plantation. Terhadap temuan APIL, Samsung C&amp;T Biofuel PTE Ltd memberikan bantahan.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>24 Agustus 2022: </strong>CP RSPO memutuskan untuk melakukan investigasi independen terkait dengan indikasi pelanggaran atas Principles &amp; Criteria (P&amp;C) RSPO yang dilakukan oleh PT Inecda Plantation.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>September 2022: </strong>Sekretariat RSPO mengirimkan draft <em>Term of Reference</em> (ToR) untuk pelaksanaan Investigasi Independen.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Februari 2023</strong>: Investigator Independen mulai bekerja.<br></p>



<figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="1600" height="1132" src="https://adatpedia.com/wp-content/uploads/2023/03/WhatsApp-Image-2023-03-09-at-11.05.48.jpeg" alt="" class="wp-image-2035" srcset="https://adatpedia.com/wp-content/uploads/2023/03/WhatsApp-Image-2023-03-09-at-11.05.48.jpeg 1600w, https://adatpedia.com/wp-content/uploads/2023/03/WhatsApp-Image-2023-03-09-at-11.05.48-1536x1087.jpeg 1536w" sizes="(max-width: 1600px) 100vw, 1600px" /></figure>



<figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="1600" height="1131" src="https://adatpedia.com/wp-content/uploads/2023/03/WhatsApp-Image-2023-03-09-at-11.05.48-1.jpeg" alt="" class="wp-image-2036" srcset="https://adatpedia.com/wp-content/uploads/2023/03/WhatsApp-Image-2023-03-09-at-11.05.48-1.jpeg 1600w, https://adatpedia.com/wp-content/uploads/2023/03/WhatsApp-Image-2023-03-09-at-11.05.48-1-1536x1086.jpeg 1536w" sizes="(max-width: 1600px) 100vw, 1600px" /></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Sumber:</p>



<ol class="wp-block-list">
<li>Buku Talang Mamak di Tepi Zaman, Penulis Syafrizaldi Jpang, Penerbit AsM Law Office, 2020.</li>



<li>Kronologi kasus, AsM Law Office, 2020.</li>



<li>BPS, 2020.</li>



<li>Observasi lapangan tim adatpedia.com (GMA), 2019-2022.</li>
</ol>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>*Koreksi:</strong> Adatpedia.com telah mengganti dua bagan struktur yang ada dalam artikel diatas, yaitu bagan struktur Kebatinan Masyarakat Adat Talang Mamak, dan bagan khusus kebatinan. Penggantian ini kami lakukan berdasarkan informasi terbaru, yakni: </p>



<ol class="wp-block-list">
<li> Berita Acara Kesepakatan Struktur Adat Talang Mamak yang Sesuai Sejarah Adat dan Wilayah Adat Talang Mamak, Nomor 1 tanggal 14 Januari 2021.  </li>



<li>Dokumen-dokumen dan diskusi dengan AMAN INHU (Januari-Februari 2020)</li>



<li>Serial Diskusi dengan Batin Sungai Limau, Batin Ampang Delapan, Batin Talang Perigi, Batin Talang Parit, Batin Pejangki dan Batin Pring Jaya (Januari-Februari 2020).</li>
</ol>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">2034</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>

<!--
Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: https://www.boldgrid.com/w3-total-cache/?utm_source=w3tc&utm_medium=footer_comment&utm_campaign=free_plugin

Object Caching 52/90 objects using Redis
Page Caching using Disk: Enhanced 
Lazy Loading (feed)
Minified using Disk
Fragment Caching 2/2 fragments using Redis

Served from: adatpedia.com @ 2026-06-21 04:56:50 by W3 Total Cache
-->