<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss"
	xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#"
	>

<channel>
	<title>Berita Hutan Adat Terkini Hari Ini &#8211; Adatpedia.com</title>
	<atom:link href="https://adatpedia.com/tag/hutan-adat/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://adatpedia.com/tag/hutan-adat/</link>
	<description>Informasi Masyarakat Adat Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Tue, 23 May 2023 08:40:51 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0</generator>

<image>
	<url>https://adatpedia.com/wp-content/uploads/2023/01/cropped-ADATPEDIA.com-logo-jadi-32x32.png</url>
	<title>Berita Hutan Adat Terkini Hari Ini &#8211; Adatpedia.com</title>
	<link>https://adatpedia.com/tag/hutan-adat/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">214169208</site>	<item>
		<title>Adatpedia Gelar Lagi Beasiswa Jurnalistik, Kali Ini ke Malin Deman</title>
		<link>https://adatpedia.com/adatpedia-gelar-lagi-beasiswa-jurnalistik-kali-ini-ke-malin-deman/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Editor]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 08 May 2023 07:27:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Adatpedia]]></category>
		<category><![CDATA[Fellowship]]></category>
		<category><![CDATA[Hutan Adat]]></category>
		<category><![CDATA[Jurnalisme Warga]]></category>
		<category><![CDATA[Malin Deman]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://adatpedia.com/?p=2132</guid>

					<description><![CDATA[Adatpedia &#8211; Setelah sukses dengan Adatpedia Journalist Fellowship Batch 1 Talang Mamak, kini adatpedia.com kembali menawarkan dukungan beasiswa bagi para jurnalis di Indonesia. Pendiri Adatpedia, Syafrizaldi Jpang mengatakan pendaftaran sudah mulai dibuka sejak 5 Mei 2023. “Paling lambat, berkas pendafataran kami terima pada 15 Mei ini,” lanjutnya. Beasiswa ini mencakup dukungan perjalanan dan peliputan dan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Adatpedia &#8211; </strong>Setelah sukses dengan Adatpedia Journalist Fellowship Batch 1 Talang Mamak, kini adatpedia.com kembali menawarkan dukungan beasiswa bagi para jurnalis di Indonesia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pendiri Adatpedia, Syafrizaldi Jpang mengatakan pendaftaran sudah mulai dibuka sejak 5 Mei 2023. “Paling lambat, berkas pendafataran kami terima pada 15 Mei ini,” lanjutnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Beasiswa ini mencakup dukungan perjalanan dan peliputan dan akses informasi penunjang liputan atas hak pangan dan mata pencarian masyarakat adat/lokal. Adatpedia juga membuka ruang bagi para fellow-nya untuk berjaringan dengan para jurnalis warga dan para narasumber di lapangan. Berikut pula mendapat akses kepada kekayaan budaya, adat istiadat dan lingkungan di lokasi kunjungan.</p>



<figure class="wp-block-image size-full"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1600" height="1066" src="https://adatpedia.com/wp-content/uploads/2023/05/kk.png" alt="" class="wp-image-2133" srcset="https://adatpedia.com/wp-content/uploads/2023/05/kk.png 1600w, https://adatpedia.com/wp-content/uploads/2023/05/kk-1536x1023.png 1536w" sizes="(max-width: 1600px) 100vw, 1600px" /><figcaption class="wp-element-caption">Lanskap Malin Deman direncanakan sebagai lokasi ini kunjungan lapangan Adatpedia Journalist Fellowship Batch 2. Foto: adatpedia.</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">“Di Gelombang pertama, kami membawa jurnalis ke komunitas adat Talang Mamak di Indragiri Hulu, Riau. Kali ini, gelombang kedua akan menyasar masyarakat Malin Deman di Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu. Kunjungan lapangan direncanakan selama 4 hari di antara 22 sampai 31 Mei 2023.” papar Syafrizaldi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jurnalis dapat mendaftar pada tautan<a href=" https://shorturl.at/xBHX9"> https://shorturl.at/xBHX9</a>. Sementara berkas pendaftaran para jurnalis di gelombang pertama akan tetap diseleksi untuk bisa terlibat pada gelombang kedua ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dia menambahkan, beasiswa ini merupakan upaya nyata dalam memperluas literasi mengenai masyarakat adat di Indonesia. Para fellow diharapkan untuk terus berkarya di medianya masing-masing. Tentunya dengan perspektif yang lebih dalam mengenai masyarakat adat.</p>



<figure class="wp-block-image size-full"><img decoding="async" width="1600" height="1066" src="https://adatpedia.com/wp-content/uploads/2023/05/jk.jpeg" alt="" class="wp-image-2134" srcset="https://adatpedia.com/wp-content/uploads/2023/05/jk.jpeg 1600w, https://adatpedia.com/wp-content/uploads/2023/05/jk-1536x1023.jpeg 1536w" sizes="(max-width: 1600px) 100vw, 1600px" /><figcaption class="wp-element-caption">Brike, salah satu budaya lokal yang ada di Malin Deman. Foto: adapedia.</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Adatpedia berkomitmen untuk terus membuka ruang diskusi mengenai peran masyarakat adat dan masyarakat lokal dalam berbagai aspek kehidupan bernegara dan berbangsa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Adatpedia.com adalah portal informasi masyarakat adat di Indonesia. Secara khusus, portal ini memberikan gambaran luas mengenai aktifitas masyarakat, pemuda dan kaum perempuan yang berjuang menggapai kesejahteraan dan inklusi sosial. Portal ini menyuguhkan beragam berita langsung dari para jurnalis warga di lapangan.</p>



<figure class="wp-block-image size-full"><img decoding="async" width="1600" height="1066" src="https://adatpedia.com/wp-content/uploads/2023/05/jj.jpeg" alt="" class="wp-image-2135" srcset="https://adatpedia.com/wp-content/uploads/2023/05/jj.jpeg 1600w, https://adatpedia.com/wp-content/uploads/2023/05/jj-1536x1023.jpeg 1536w" sizes="(max-width: 1600px) 100vw, 1600px" /><figcaption class="wp-element-caption">Malin Deman didominasi oleh keluarga-keluarga petani, umumnya mereka menanam sawit. Foto: adatpedia.</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Portal multiplatform adatpedia.com merupakan bagian dari proyek “Mengembalikan Kedaulatan Pasca Kriminalisasi atas Hak Pangan dan Mata Pencaharian Masyarakat,” yang didukung Rights and Resources Initiative (RRI) melalui Program Strategic Response Mechanism (SRM). SRM adalah mekanisme keuangan yang dirancang untuk memungkinkan tanggapan yang fleksibel dan tepat waktu terhadap peluang dan ancaman yang tidak terduga atas masalah yang dihadapi masyarakat adat/lokal.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>(rilis)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">2132</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Keturunan Patih Nang Sabatang</title>
		<link>https://adatpedia.com/keturunan-patih-nang-sabatang/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Editor]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 12 Apr 2023 17:31:51 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Narasi]]></category>
		<category><![CDATA[Adatpedia]]></category>
		<category><![CDATA[Hutan Adat]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
		<category><![CDATA[Riau]]></category>
		<category><![CDATA[Talang Mamak]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://adatpedia.com/?p=2091</guid>

					<description><![CDATA[Saya melewati beberapa hari di rumah Gundok. Kami kerap berdiskusi tentang kepemimpinan adat. Menurut Gundok, kepemimpinan adat, seperti yang diuraikan sebelumnya, memang dipimpin oleh Tiga Payung Sekaki, yakni: Batin Talang Parit, Batin Talang Perigi dan Patih Durian Cacar. Dulunya, kisah Gundok, orang Talang Mamak berkembang dari ayah yang berasal dari Minangkabau. Orang Talang Mamak menyebutnya [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Saya melewati beberapa hari di rumah Gundok. Kami kerap berdiskusi tentang kepemimpinan adat. Menurut Gundok, kepemimpinan adat, seperti yang diuraikan sebelumnya, memang dipimpin oleh Tiga Payung Sekaki, yakni: Batin Talang Parit, Batin Talang Perigi dan Patih Durian Cacar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dulunya, kisah Gundok, orang Talang Mamak berkembang dari ayah yang berasal dari Minangkabau. Orang Talang Mamak menyebutnya Patih Nang Sabatang. Di Talang Mamak, Patih Nang Sabatang memiliki tiga orang anak. Tiga anak itulah yang lantas berkembang menjadi orang Talang Mamak. Mereka dikenal dengan sebutan Patih Nang Betiga.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Patih Nang Betiga lantas dikenal dengan Payung Tiga Sekaki. Mereka adalah para patih yang berkedudukan di Durian Cacar, Talang Perigi dan Talang Parit. Patih Durian Cacar dikenal dengan Patih Sebunga, Patih Talang Perigi dikenal dengan sebutan Patih Sebesi dan Patih Talang Parit dikenal dengan sebutan Patih Kelopak.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketiganya menunjukkan tingkatan mulai dari anak termuda hingga yang paling tua. Menurut Gundok, pendahulunya di Talang Mamak memercayai bahwa Patih Sebunga adalah anak yang paling muda dan Patih Kelopak adalah anak yang paling tua. Ketiga anak Patih Nang Sabatang lantas menduduki wilayahnya masing-masing.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Rapan, di Talang Perigi mengakui bahwa keturunan orang Talang Mamak berasal dari ayah orang Minangkabau. Kedekatan pertalian darah ini membuat sebagian besar adat istiadat orang Talang Mamak memiliki kemiripan dengan adat istiadat orang Minangkabau.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam Tambo Adat Minangkabau, Patih Nang Sabatang dikenal dengan sebutan Parpatih Nan Sabatang. Selain itu, di Minangkabau juga dikenal adanya Parpatih Ketemanggungan. Kedua Parpatih ini lantas memiliki keturunan dan membentuk adat istiadat sendiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Kalau ibu berasal dari keturunan Arab, bernama Putri Indah Jalilah,” tandas Rapan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sejauh ini, belum terkonfirmasi keturunan orang Talang Mamak dari garis ibu. Kecuali apa yang disebutkan Rapan, ada pula yang menyebut ibu orang Talang Mamak berasal dari Johor, sebagian lagi mengatakan dari Malaka.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Salah satu catatan mutakhir menyebut: Patih Nang Sabatang menikahi Putri Indah Jalilah, anak Raja Langka (sekarang di Johor, Malaysia) dan cucu anak Adam-Hawa yang bungsu. Dengan demikian Patih Nang Sabatang menikahi keponakannya sendiri [6].</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kembali pada Payung Tiga Sekaki, dua di antaranya kemudian dikenal dengan sebutan Batin, sementara di Durian Cacar, pemerintahan adat masih dikepalai oleh Patih.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tak ada penjelasan perubahan itu. Saya mencoba mengonfirmasi sejarah itu kepada literatur tertulis, juga tidak ditemukan. Saya bahkan menemui Batin Talang Parit, Irasan, juga tak ada informasi. Saya juga tak menjumpai informasi itu dari Rapan, Batin Talang Perigi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menurut mereka, perubahan itu sudah terjadi sejak lama. Budaya oral orang Talang Mamak tidak merekam oleh siapa dan kapan perubahan nama itu terjadi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dongeng sejarah yang saya dengar dari beberapa sumber informasi menyebut ada tiga versi sejarah perubahan nama tersebut. Versi pertama mengisahkan pertemuan Patih Sebunga (Patih Durian Cacar) dengan Datu Bagigi Tunggal. Sang Datu kemudian merubah nama gelar untuk Patih Kelopak dan Patih Sebesi menjadi Batin, tapi tidak merubah penyebutan untuk Patih Sebunga. Kendati Patih Sebunga adalah saudara yang paling kecil, tapi Datu Bagigi Tunggal memercayai bahwa kepercayaan Langkah Lama akan terus dipertahankan oleh Sang Adik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Beberapa kali istilah Langkah Lama muncul dalam catatan ini. Saya akan menjelaskan Langkah Lama dalam catatan tersendiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Versi kedua menyebut, gelar Patih Sebunga tidak diganti karena telah dimandatkan oleh ayah mereka, Patih Nang Sabatang. Menurut sumber itu, Patih Nang Sabatang memerintahkan dua anak pertamanya menjadi Batin dan menetapkan gelar Patih bagi anak bungsunya itu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sumber informasi ini tidak menyebutkan alasan peruahan nama yang dilakukan Patih Nang Sabatang. Sumber ini hanya menyebut bahwa kejadian itu sudah berlalu dan tidak ada pertinggal yang dituliskan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Versi ketiga menyebut perubahan ini berkait dengan keinginan Raja Indragiri menangkap gajah putih. Raja telah meminta Patih Sebesi dan Patih Kelopak mencari dan menangkap gajah putih. Keduanya lantas menunaikan perintah Raja.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di dalam hutan, keduanya berhasil menangkap gajah putih. Gajah itu masuk ke dalam lubang perangkap. Agar gajah tak lari, maka lubang itu ditutup dengan kain bewarna kuning dan hitam.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Patih Sebesi dan Patih Kelopak kembali ke kampungnya masing-masing. Mereka memberitakan kepada Raja bahwa gajah putih telah ditangkap dan sekarang berada dalam lubang bertutup kain kuning dan hitam.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun ketika Raja mendatangi lubang dimaksud, Raja mendapati lubang itu kosong, tidak ada gajah putih. Sementara kain penutup bewarna kuning dan hitam masih berada pada tempatnya, bahkan tidak menunjukkan tanda kerusakan. Gajah itu telah melarikan diri secara ajaib. Hal ini membuat Raja marah. Kemarahan Raja membuat Patih Sebesi dan Patih Kelopak tak lagi menyandang gelar Patih, mereka menjadi Batin.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Terlepas dari berbagai versi itu, Ketiga Patih, lanjut Gundok, memiliki anak dan keturunan. Keturunan mereka menyebar sepanjang wilayah adat orang Talang Mamak yang kini dikenal sebagai Kabupaten Indragiri Hulu. Sebagian lagi mereka telah bermigrasi hingga ke Kabupaten Tebo di Jambi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Keturunan Patih Durian Cacar, lanjutnya, menyebar hingga ke Batang Tenaku, Rantau Langsat, Dinala Pasak Melintang, Tujuh Buah Tangga, Ampang Delapan dan Anak Talang. Sementara itu, keturunan Batin Talang Perigi menyebar hingga ke Kedabu, Pembubung, Talang Siambul dan Dua Puluh Patar. Keturunan Batin Talang Parit menyebar melewati wilayah-wilayah Talang Jerinjing, Talang Sungai Limau, Muke Muke, Belimbing dan Sungai Jirak.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Masing-masing wilayah kemudian membentuk pemerintahan adat sendiri. Karena kebutuhan akan ruang semakin meningkat, masing-masing kebatinan memperluas wilayah pemerintahan adatnya. Penyebaran ini dilakukan oleh anak keturunan selanjutnya, yakni para cicit dari Payung Tiga Sekaki.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di Batang Tenaku, wilayah adat meluas hingga ke wilayah Sipang dan Alim. Di Rantau Langsat meluas hingga ke wilayah Talang Lakat dan Usul. Semuanya berada dalam satuan struktur adat di bawah kepemimpinan Patih Durian Cacar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sementara itu, pada pemerintahan Kebatinan Talang Perigi, penyebaran wilayah dilakukan hingga Pembubung dan Talang Siambul. Dari Pembubung, muncul dua kebatinan lain, yakni di wilayah Menggayahan dan Tenaku Kecik. Dan dari Talang Siambul menyebar ke wilayah Ringin dan Lemang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada Kebatinan Talang Parit juga terjadi perluasan wilayah kebatinan. Kebatinan Muke Muke menyebar hingga ke Pejangki dan Belingan. Ditambah dengan perluasan Kebatinan Belimbing ke wilayah Siberida.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pertanyaan pertama yang mungkin muncul adalah, mengapa ada Raja Indragiri dalam struktur tersebut? Hal ini akan dijelaskan nanti. Struktur Kebatinan Masyarakat Adat Talang Mamak sesungguhnya hanya yang berada dalam kotak bergaris tebal bewarna biru tua. Di dalam kotak itu, terlihat jelas struktur Kebatinan yang merujuk pada silsilah keturunan orang Talang Mamak.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Kami hanya mengakui batin yang menjunjung tinggi garis keturunan, curaian dan sejarah,” ungkap Irasan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Curaian, dalam hal ini adalah penuturan adat yang disampaikan pihak-pihak yang berkompeten seperti Batin atau Patih. Curaian adat bukan hanya berisi sejarah keturunan, tapi lebih jauh dari itu, berisi pula petatah petitih yang rumit. Kadang, mencoba mengerti curaian adat Talang Mamak mengharuskan saya mengulang-ulang kembali rekaman suara, atau bertanya ulang pada sumber bersangkutan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam bahasa Indonesia, kata curaian berarti paparan yang sangat jelas, sangat terang. Di Talang Mamak, arti kata curaian lebih dalam, dan mendetil tentang keturunan berikut dengan pantun adat yang rumit.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Catatan kaki</p>



<p class="wp-block-paragraph">6. Akhwan Binawan , Budy Utamy, Gilung, Muntaza dan Pengurus Daerah AMAN INHU, dalam Identitas Orang Talang Mamak Dan Wilayah Adatnya, dipublikasikan AMAN INHU tahun 2015.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>*Tulisan ini merupakan bagian dari Buku Talang Mamak di Tepi Zaman karya Syafrizaldi Jpang, yang diterbitkan oleh AsM Law Office bekerjasama dengan Rights and Resources Initiative pada 2020. Adatpedia.com akan menerbitkan 10 seri dalam buku tersebut secara bersambung</strong>&nbsp;<strong>setiap minggu</strong>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">2091</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Hierarki Penata Teritori</title>
		<link>https://adatpedia.com/hierarki-penata-teritori/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Editor]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 21 Mar 2023 11:02:40 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Narasi]]></category>
		<category><![CDATA[Adatpedia]]></category>
		<category><![CDATA[Hutan Adat]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
		<category><![CDATA[Pilihan Editor]]></category>
		<category><![CDATA[Riau]]></category>
		<category><![CDATA[Talang Mamak]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh Adat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://adatpedia.com/?p=2075</guid>

					<description><![CDATA[Di rumah Batin Gundok, Sagaf menyampaikan pengantar melalui pepatah adat. Saya tak begitu paham yang dia ucapkan, tapi secara keseluruhan saya memahami, Sagaf sedang bertemu dengan pucuk pimpinannya. Gundok tersenyum, dia membalas pengantar Sagaf. Lagi dengan pantun dan pepatah yang sulit dimengerti. Intinya, Gundok menyampaikan bahwa dia dan keluarganya sangat senang menerima saya sebagai tamu [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Di rumah Batin Gundok, Sagaf menyampaikan pengantar melalui pepatah adat. Saya tak begitu paham yang dia ucapkan, tapi secara keseluruhan saya memahami, Sagaf sedang bertemu dengan pucuk pimpinannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Gundok tersenyum, dia membalas pengantar Sagaf. Lagi dengan pantun dan pepatah yang sulit dimengerti. Intinya, Gundok menyampaikan bahwa dia dan keluarganya sangat senang menerima saya sebagai tamu mereka.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saya berpelukan dengan Gundok. Kami pernah bertemu beberapa kali dalam kesempatan lain. Namun baru kali ini saya punya kesempatan menyambangi rumahnya. Saya berbasa-basi, menanyakan kabar keluarga dan kesehariannya. Gundok tampak senang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kami lantas berbicara tentang jauhnya perjalanan yang harus saya tempuh. Dari Pekanbaru, Rengat mencapai jarak lebih dari 200 kilometer. Dari Rengat, saya harus menempuh jalan aspal bagus menuju Belilas, lalu melewati pusat Kecamatan Rakit Kulim sebelum singgah di rumah Sagaf dan sampai di rumah Batin Gundok.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dia tersenyum. Ya, jawabnya, jalanan di sini tidak sama seperti di kota yang beraspal hitam. Di Ampang Delapan, jalan tanah kuning yang dikeraskan sudah sangat menguntungkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Berkait jalan, saya dan Gundok menyambangi Hutan Adat Durian Di Rawang beberapa kilometer dari rumahnya beberapa hari kemudian. Dalam perjalanan kami menuju hutan adat, saya mendapati bahwa jalan di kampung Gundok memang mestinya menjadi isu utama. Betapa tidak, tak satupun jalan yang kami lewati yang tersentuh pengerasan jalan. Bahkan tak juga kerikil. Yang ada hanyalah bekas rambahan dan pembukaan jalan baru. Sama sekali belum ada pengerasan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kami berhenti di beberapa titik. Hujan dan air limpasan agaknya telah menyeret tanah sehingga membentuk lubang menganga. Beruntung karena saya membawa kendaraan lapangan Land Rover. Jadi tak banyak kendala di jalan. Sahabat saya, Otoy, mengendalikan mesin tua keluaran tahun 1981 itu dengan lincah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kembali ke rumah Gundok, dia masih bercerita tentang pertemuan terakhir kami. Saya menangkap kesan, Gundok adalah seorang yang cerdas. Dia bisa mengingat detil pembicaraan kami tentang janji saya untuk datang ke kampungnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Untung di antar Sagaf. Kalau tidak, mungkin tidak saya terima,” canda Gundok.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sagaf tersenyum. Dia menimpali, kalau tidak, mungkin bisa kena usir. Kami tertawa bersama. Tapi saya masih mencoba menyesuaikan gelombang pembicaraan. Sagaf beberapa kali menyela pembicaraan itu dengan sikap hormat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada akhirnya, Sagaf pamit pulang karena hari telah menjelang petang. Dia meninggalkan saya dan Otoy di rumah Gundok. Istri Gundok tersenyum bersama seorang anaknya. Kami melepas kepergian Sagaf.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Rumah Gundok, agak mirip rumah Sagaf di bagian dalam. Hanya ada sebuah ruangan besar seukuran sembilan kali sembilan meter per segi. Rumah itu dilengkapi sebuah beranda yang terletak persis di depan pintu masuk. Di sebelah dalam, ada sebuah ruang tak bersekat berukuran tiga kali sembilan meter per segi. Ruang itu hanya dibatasi sebuah balok kayu yang posisinya lebih tinggi sekitar sepuluh senti meter dari lantai.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Ini balok pembatas,” kata Gundok.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ruangan yang dibatasi balok itu hanya boleh ditempati oleh kaum laki-laki. Saya memerhatikan sepanjang tinggal di rumahnya, tak sekalipun istri Gundok melewati batas itu untuk duduk bersama kami. Kalaupun kami tengah berdiskusi, istrinya memilih untuk duduk di bagian belakang yang dekat dengan sebuah kamar, atau duduk di posisi yang dekat dengan pintu belakang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menurut Gundok, orang Talang Mamak kerap berkumpul malam hari. Biasanya pembicaraan seputar adat dilakukan di rumah batin. Dan, hanya ruang depan yang dibatasi balok kayu itu yang digunakan untuk duduk. Perempuan tak pernah duduk di dalam ruang berpembatas itu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saya beruntung karena diantarkan oleh Sagaf. Kendati saya sesungguhnya menuai janji dengan Gundok untuk bertandang ke rumahnya. Tapi secara adat, saya tidak mungkin datang sendiri langsung ke rumah Gundok.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Gilung telah mengatur supaya saya diantarkan oleh Sagaf, kakaknya. Mengapa Sagaf? Karena dalam struktur Kebatinan Adat Ampang Delapan, Sagaf menjabat sebagai Pemangku atau Mangku, posisinya persis di bawah Batin. Saya mungkin saja diantarakan oleh Ketuha Adat ke rumah Batin Gundok, tapi Gilung beranggapan bahwa akan lebih baik saya diantar langsung oleh Pemangku.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Begitulah. Orang Talang Mamak hidup dalam hierarki kepemimpinan oligarki [5]&nbsp;yang kuat. Mungkin bila mana saya tidak diantarkan Sagaf, pembicaraan dengan Gundok akan berlangsung kering dan tertutup. Artinya, akan sulit menggali informasi tentang masalah yang berkaitan dengan adat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Gundok mengonfirmasi hal tersebut. Menurutnya, segala sesuatu yang dibawa bawahannya – Mangku atau Manti – adalah hal yang bersifat final. Jikapun ada pertimbangan lain, itu adalah hak prerogatif dirinya sebagai Batin.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Demikian pula halnya dengan struktur di bawah Mangku atau Manti, Ketuha Adat datang pada Mangku dan Manti setelah semua urusan diselesaikan. Jikapun ada yang belum beres, maka Mangku atau Manti akan membantu menyelesaikan sebelum dibawa ke tingkat Batin.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Kami para Batin hanya menerima buah masak,” katanya berkias.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saya dan Gundok terlibat pembicaraan panjang dan serius. Struktur Kebatinan yang disampaikan Gundok saya konfirmasi ke beberapa Batin lain guna mendapat masukan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi Gundok, struktur kepemimpinan adat di wilayahnya memberikan keleluasaan bagi para pemimpin di bawah Batin untuk mengembangkan pertimbangan-pertimbangan yang arif dan adil. Dia percaya, para pengisi struktur pemerintahan batin itu memudahkan pengambilan keputusan. Karena tidak semua persoalan akan sampai ke tangan Batin, kecuali untuk persoalan-persoalan pelik yang membutuhkan penerawangan lebih lanjut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Penerawangan, saya ingin sedikit berbagi soal ini. Penerawangan dalam pengertian bebas berarti sesuatu yang dilakukan oleh seseorang untuk melihat masa depan. Ini agak mirip dengan ramalan, tapi terawangan sepertinya bersifat lebih magis.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ya, Gundok membenarkan. Penerawangan yang dia lakukan adalah untuk meminta pendapat arwah leluhurnya. Setidaknya, sedikit bocoran untuk masa depan dari keputusan yang dia ambil.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Orang Talang Mamak, hidup dalam tuntunan arwah leluhur. Kami percaya leluhur kami terus membantu,” kata Gundok.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Batin, lanjut dia, dibantu oleh dukun dan orang pintar yang akan menerawang dampak dari berbagai keputusan yang akan dia ambil. Dukun dan orang pintar memiliki kemampuan untuk menelisik masa depan. Dengan itu, Gundok merasa percaya diri memutuskan berbagai macam hal yang sampai ke rumahnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketuha Adat diangkat oleh masyarakat berbasis keluarga tertentu. Mereka memimpin para Anak/Bapak. Kelompok ini disebut dengan Ninik Mamak. Ninik Mamak adalah para pewaris dari keluarga-keluarga tertentu yang memiliki hubungan darah dan kekerabatan sangat dekat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lagi, ini sedikit ada persamaan dengan fungsi Ninik Mamak di Minangkabau. Ninik Mamak di Mingkabau adalah sekumpulan orang yang memiliki hak pengambilan keputusan bersama dalam keluarga. Para Ninik Mamak biasanya dipimpin seorang Datuk.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kecuali itu, di Batang Tinaku agak berbeda. Pimpinan tertinggi disebut Muncak. Di bawahnya ada Mangku dan Manti. Ada juga dukun sebagai pembantu Muncak. Sementara Anak Bapak dan Ketuha Adat tidak ada, digantikan dengan Ninik Mamak.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Masing-masing Batin, menginduk pada salah satu Batin yang termasuk dalam Payung Tiga Sekaki. Gundok sendiri menginduk pada Patih Durian Cacar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Diskusi kami terus berkembang. Kadang saya melipir menanyakan keseharian Gundok. Kami terus mencoba mengakrabkan diri satu sama lain. Otoy terlibat pembicaraan ini dengan seru. Dia juga mengisahkan perjalanan orang tuanya ke Talang Mamak di zaman dulu. Menurut Otoy, kisah perjalanan orang tuanya itu telah menjadi inspirasi tersendiri buat dirinya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada akhirnya kami lelah. Tikar pandan yang telah membentang sebagai alas duduk kini telah berubah menjadi alas punggung. Kami merebahkan diri dalam lamun ketika malam menyergap.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Catatan Kaki:</p>



<p class="wp-block-paragraph">5. Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia, oligarki adalah pemerintahan yang dijalankan oleh beberapa orang yang berkuasa dari golongan atau kelompok tertentu. Sementara istilah oligarki mengandung pengertian sebentuk pemerintahan yang kekuasaan politiknya secara efektif dipegang oleh kelompok elit kecil dari masyarakat, baik dibedakan menurut kekayaan, keluarga, atau militer.</p>



<p class="wp-block-paragraph">(Bersambung)</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>*Tulisan ini merupakan bagian dari Buku Talang Mamak di Tepi Zaman karya Syafrizaldi Jpang, yang diterbitkan oleh AsM Law Office bekerjasama dengan Rights and Resources Initiative pada 2020. Adatpedia.com akan menerbitkan 10 seri dalam buku tersebut secara bersambung</strong>&nbsp;<strong>setiap minggu</strong>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">2075</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Menengok Tembawang di Ansok</title>
		<link>https://adatpedia.com/menengok-tembawang-di-ansok/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Editor]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 27 Feb 2023 06:58:35 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Narasi]]></category>
		<category><![CDATA[Dayak]]></category>
		<category><![CDATA[Hutan Adat]]></category>
		<category><![CDATA[kalimantan]]></category>
		<category><![CDATA[Kalimantan Barat]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://adatpedia.com/?p=2010</guid>

					<description><![CDATA[ANAK muda di Ansok mulai melirik kekayaan tembawang mereka.  Hutan agrofores tua itu kini mulai dilirik lantaran potensinya yang luar biasa. Untet (18) memiliki nama asli Ifnasia Riska.&#160; Dia menggunakan baju dari kulit kayu.&#160; Menurutnya, anak muda Dayak seharusnya tak malu memakai pakaian adat berikut aksesorisnya. Baju itu dipakai Untet, menyusul hasil rapat pemuda di [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><em>ANAK muda di Ansok mulai melirik kekayaan tembawang mereka.  Hutan agrofores tua itu kini mulai dilirik lantaran potensinya yang luar biasa.</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Untet (18) memiliki nama asli Ifnasia Riska.&nbsp; Dia menggunakan baju dari kulit kayu.&nbsp; Menurutnya, anak muda Dayak seharusnya tak malu memakai pakaian adat berikut aksesorisnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Baju itu dipakai Untet, menyusul hasil rapat pemuda di kampungnya di Dusun Ansok di Desa Benua Kencana, Kecamatan Tempunak Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat.&nbsp; Dalam rapat itu, mereka berniat melakukan revitalisasi atas kehidupan budaya dan adat orang Dayak Seberuang Ansok.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Kami baru saja membentuk kelompok pemuda bernama &nbsp;Gerakan Pemuda Adat Seberuang Ansok,” katanya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kampung Untet merupakan salah satu kampung yang dihuni oleh Suku Dayak Seberuang, sekitar 78 kilometer dari pusat Kabupaten Sintang.&nbsp; Suku Dayak Seberuang, lanjutnya, menyebar mulai dari sungai Seberuang di Kabupaten Kapuas Hulu.&nbsp; Nenek moyangnya berpindah berkali-kali sebelum tiba di Sungai Tempunak.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Tak ada sumber tertulis.&nbsp; Kami merunut sejarah dari tuturan tetua kampung,” ungkapnya 10 Januari 2020.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dayak Seberuang, lanjut dia, termasuk rumpun Dayak Ibanik. Kampung Ansok sendiri merupakan salah satu yang tertua di wilayah Kecamatan Tempunak Hulu.&nbsp; Dulu, bahkan pernah menjadi pusat pemerintahan Temenggung Udap.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dusun Ansok, kata Untet, luasnya hanya 1.173 hektare, 119 hektare di antaranya adalah hutan adat.&nbsp; Hutan adat ada dua, ada hutan adat Bukit Emperkak seluas 116 hektare dan hutan adat Bukit Lamat seluas 23 hektare.&nbsp; Nama Emperkak merujuk pada sebuah nama bukit yang dulunya adalah tembawang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Paman Untet, Timotius memperkenalkan hutan adat kepadanya.&nbsp; Menurutnya, generasi muda mesti lebih mengenal potensi alam.&nbsp; Itu akan menjadi modal Untet mebangun kampungnya di masa depan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Tembawang sendiri merupakan satu komplek pemukiman berikut kebun-kebun tua yang telah ditinggalkan.&nbsp; Secara ilmiah, tembawang dikenal dengan istilah&nbsp;<em>agroforest</em>,” ungkap Timotius.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di Ansok sendiri, tanaman kopi mulanya diperkenalkan Belanda.&nbsp; Hal ini terbukti dengan banyaknya tanaman kopi tua pada tembawang yang telah lama ditinggalkan. Kecuali itu, kini perempuan di Ansok juga sudah belajar budidaya padi sawah.&nbsp; Dulunya, kata Untet, orang Ansok menanam padi sekali dalam setahun di ladang. Dengan sawah, diharapkan produksi padi di Ansok bisa lebih meningkat.&nbsp; Jadi kami tak perlu lagi membeli beras. Untet tampak sangat berselera seiring dengan bulir padi yang mulai tumbuh.&nbsp; Dia berkeinginan kuat menjadi bagian dari perempuan adat yang turut melestarikan budaya Dayak.&nbsp; Klik, telepon pintarnya berbunyi.&nbsp; Dia tak kuasa lagi menunggu saatnya swafoto.</p>



<p class="wp-block-paragraph">(Syafrizaldi Jpang)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">2010</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Merekam Kekayaan Hutan Adat</title>
		<link>https://adatpedia.com/merekam-kekayaan-hutan-adat/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Editor]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 27 Feb 2023 06:39:09 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Narasi]]></category>
		<category><![CDATA[Hutan Adat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://adatpedia.com/?p=2002</guid>

					<description><![CDATA[Adatpedia &#8211; Bagi anak muda, hutan adat menyimpan berbagai kekayaan. Mereka merekamnya dengan telepon genggam. Swafoto menjadi jurus andalan. Dwi Ayu Dahlia (19) lebih banyak menggunakan telepon genggam untuk merekam peristiwa, foto maupun video. Di kampung Ayu, Kampung Sanjan, Desa Sungai Mawang, Kecamatan Kapuas di Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, internet adalah barang langka. “Maklum, disini [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Adatpedia</strong> &#8211; Bagi anak muda, hutan adat menyimpan berbagai kekayaan. Mereka merekamnya dengan telepon genggam. Swafoto menjadi jurus andalan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dwi Ayu Dahlia (19) lebih banyak menggunakan telepon genggam untuk merekam peristiwa, foto maupun video. Di kampung Ayu, Kampung Sanjan, Desa Sungai Mawang, Kecamatan Kapuas di Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, internet adalah barang langka.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Maklum, disini sinyal susah. Kami mendapat sinyal hanya pada tempat tertentu. Itupun belum tentu four ji (4G), apalagi four ji plus (4G+),” ungkapnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pagi itu, 12 Januari 2020, dia sudah berada di Hutan Adat Tomawankng Ompu’. Tepat di tengah hutan adat seluas 237 hektare itu, Ayu melancarkan berbagai jurus swafoto, khas anak muda. Bergaya, senyum dengan kepala miring dan salam dua jari.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam perjalanan, Ayu merekam kekayaan alam hutan adat. Rencananya, hutan adat itu akan dikembangkan menjadi salah satu wilayah wisata alam pendidikan. Dia beruntung karena ayahnya, Petrus dengan senang hati menemani perjalanan Ayu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menurut Petrus, dirinya sengaja mengajak Ayu supaya dapat belajar banyak dari kekayaan kampungnya sendiri. Dia ingin anak-anak Sanjan menjadi anak-anak pembelajar, tangguh di masa depan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Belajar dari alam merupakan salah satu cara membangun karakter anak,” kata Petrus.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di perjalanan, Petrus telah memperkenalkan berbagai buah hutan pada Ayu. Mereka bertemu durian, dan menyantap buah enak itu. Mereka membawa beberapa buah durian yang masih baik guna dimakan bersama di pondok hutan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ayu dan ayahnya adalah bagian dari Komunitas Dayak Kodatn Sebiau, sub suku Dayak dari kelompok Bidayuhik. Kelompok sub suku Dayak lainnya yang terkenal adalah Ibanik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Komunitas Dayak Kodatn Sebiau di Kampung Sanjan kini memang tengah bergeliat. Mereka tengah menyiapkan Hutan Adat Tomawankng Ompu’ menjadi salah satu lokasi wisata alam dan pendidikan. Aksesnya yang tidak terlalu jauh dari pusat Kabupaten Sanggau, membuka peluang lebih lebar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Dari Sanggau jaraknya hanya 17 kilometer. Kalau saya sering di Pontianak, jaraknya hampir 230 kilometer,” kata Ayu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Petrus, juga memperkenalkan Ayu dengan jenis-jenis tanaman obat. Beberapa remaja sepantaran Ayu dan yang lebih muda terlibat dalam obrolan ringan tentang pohon. Petrus juga menjelaskan hubungan antara pohon, tanah, air dan udara.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Sebatang pohon menjadi tempat hidup bagi banyak sekali makhluk. Mulai dari yang bersarang di akar dan tanah, sampai burung-burung yang memanfaatkan ranting dan dahan. Buah dan bunga menjadi bahan makanan bagi burung, lebah dan tupai,” papar Petrus.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Petrus menjelaskan sebuah siklus kehidupan dimulai dari dukungan tanah, air dan udara terhadap tumbuh-kembang sebatang pohon. Ketika pohon terus tumbuh, dia akan turut menjaga agar tanah tetap lembab karena sinar matahari terhalang kanopi dan tidak langsung masuk ke lantai hutan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi para remaja itu, penjelasan Petrus masuk akal. Sebagian telah mereka pelajari di sekolah. Namun sebagian besar baru mereka pahami hari itu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Nanti saya mau ajak teman di kampus untuk melakukan penelitian tanaman obat di sini,” ungkap Ayu yang kini menjadi mahasiswa kedokteran Universitas Tanjungpura di Pontianak.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hutan Adat Tomawankng Ompu’ mulai dikelola sejak 1930. Inisiatif hutan adat bermula ketika pemangku adat di Sanjan mengajak warga untuk melindungi sebuah kawasan bertutupan hutan. Kawasan tersebut tidak boleh dibuka untuk perladangan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Pada 1953, sudah dilakukan penataan batas. Orang di sini sudah tahu mana saja batas hutan adat,” ungkap Petrus.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hutan ini, lanjut Petrus merupakan bagian dari wilayah adat Kodatn Sebiau. Wilayah adat membentang sepanjang Sungai Sekayam. <strong>(Syafrizaldi Jpang)</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">2002</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>

<!--
Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: https://www.boldgrid.com/w3-total-cache/?utm_source=w3tc&utm_medium=footer_comment&utm_campaign=free_plugin

Object Caching 40/126 objects using Redis
Page Caching using Disk: Enhanced 
Lazy Loading (feed)
Minified using Disk
Fragment Caching 2/2 fragments using Redis

Served from: adatpedia.com @ 2026-06-21 04:59:13 by W3 Total Cache
-->