<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss"
	xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#"
	>

<channel>
	<title>Berita Adatpedia Terkini Hari Ini &#8211; Adatpedia.com</title>
	<atom:link href="https://adatpedia.com/tag/adatpedia/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://adatpedia.com/tag/adatpedia/</link>
	<description>Informasi Masyarakat Adat Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Tue, 23 May 2023 08:40:51 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.2</generator>

<image>
	<url>https://adatpedia.com/wp-content/uploads/2023/01/cropped-ADATPEDIA.com-logo-jadi-32x32.png</url>
	<title>Berita Adatpedia Terkini Hari Ini &#8211; Adatpedia.com</title>
	<link>https://adatpedia.com/tag/adatpedia/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">214169208</site>	<item>
		<title>Adatpedia Gelar Lagi Beasiswa Jurnalistik, Kali Ini ke Malin Deman</title>
		<link>https://adatpedia.com/adatpedia-gelar-lagi-beasiswa-jurnalistik-kali-ini-ke-malin-deman/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Editor]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 08 May 2023 07:27:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Adatpedia]]></category>
		<category><![CDATA[Fellowship]]></category>
		<category><![CDATA[Hutan Adat]]></category>
		<category><![CDATA[Jurnalisme Warga]]></category>
		<category><![CDATA[Malin Deman]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://adatpedia.com/?p=2132</guid>

					<description><![CDATA[Adatpedia &#8211; Setelah sukses dengan Adatpedia Journalist Fellowship Batch 1 Talang Mamak, kini adatpedia.com kembali menawarkan dukungan beasiswa bagi para jurnalis di Indonesia. Pendiri Adatpedia, Syafrizaldi Jpang mengatakan pendaftaran sudah mulai dibuka sejak 5 Mei 2023. “Paling lambat, berkas pendafataran kami terima pada 15 Mei ini,” lanjutnya. Beasiswa ini mencakup dukungan perjalanan dan peliputan dan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Adatpedia &#8211; </strong>Setelah sukses dengan Adatpedia Journalist Fellowship Batch 1 Talang Mamak, kini adatpedia.com kembali menawarkan dukungan beasiswa bagi para jurnalis di Indonesia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pendiri Adatpedia, Syafrizaldi Jpang mengatakan pendaftaran sudah mulai dibuka sejak 5 Mei 2023. “Paling lambat, berkas pendafataran kami terima pada 15 Mei ini,” lanjutnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Beasiswa ini mencakup dukungan perjalanan dan peliputan dan akses informasi penunjang liputan atas hak pangan dan mata pencarian masyarakat adat/lokal. Adatpedia juga membuka ruang bagi para fellow-nya untuk berjaringan dengan para jurnalis warga dan para narasumber di lapangan. Berikut pula mendapat akses kepada kekayaan budaya, adat istiadat dan lingkungan di lokasi kunjungan.</p>



<figure class="wp-block-image size-full"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1600" height="1066" src="https://adatpedia.com/wp-content/uploads/2023/05/kk.png" alt="" class="wp-image-2133" srcset="https://adatpedia.com/wp-content/uploads/2023/05/kk.png 1600w, https://adatpedia.com/wp-content/uploads/2023/05/kk-1536x1023.png 1536w" sizes="(max-width: 1600px) 100vw, 1600px" /><figcaption class="wp-element-caption">Lanskap Malin Deman direncanakan sebagai lokasi ini kunjungan lapangan Adatpedia Journalist Fellowship Batch 2. Foto: adatpedia.</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">“Di Gelombang pertama, kami membawa jurnalis ke komunitas adat Talang Mamak di Indragiri Hulu, Riau. Kali ini, gelombang kedua akan menyasar masyarakat Malin Deman di Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu. Kunjungan lapangan direncanakan selama 4 hari di antara 22 sampai 31 Mei 2023.” papar Syafrizaldi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jurnalis dapat mendaftar pada tautan<a href=" https://shorturl.at/xBHX9"> https://shorturl.at/xBHX9</a>. Sementara berkas pendaftaran para jurnalis di gelombang pertama akan tetap diseleksi untuk bisa terlibat pada gelombang kedua ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dia menambahkan, beasiswa ini merupakan upaya nyata dalam memperluas literasi mengenai masyarakat adat di Indonesia. Para fellow diharapkan untuk terus berkarya di medianya masing-masing. Tentunya dengan perspektif yang lebih dalam mengenai masyarakat adat.</p>



<figure class="wp-block-image size-full"><img decoding="async" width="1600" height="1066" src="https://adatpedia.com/wp-content/uploads/2023/05/jk.jpeg" alt="" class="wp-image-2134" srcset="https://adatpedia.com/wp-content/uploads/2023/05/jk.jpeg 1600w, https://adatpedia.com/wp-content/uploads/2023/05/jk-1536x1023.jpeg 1536w" sizes="(max-width: 1600px) 100vw, 1600px" /><figcaption class="wp-element-caption">Brike, salah satu budaya lokal yang ada di Malin Deman. Foto: adapedia.</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Adatpedia berkomitmen untuk terus membuka ruang diskusi mengenai peran masyarakat adat dan masyarakat lokal dalam berbagai aspek kehidupan bernegara dan berbangsa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Adatpedia.com adalah portal informasi masyarakat adat di Indonesia. Secara khusus, portal ini memberikan gambaran luas mengenai aktifitas masyarakat, pemuda dan kaum perempuan yang berjuang menggapai kesejahteraan dan inklusi sosial. Portal ini menyuguhkan beragam berita langsung dari para jurnalis warga di lapangan.</p>



<figure class="wp-block-image size-full"><img decoding="async" width="1600" height="1066" src="https://adatpedia.com/wp-content/uploads/2023/05/jj.jpeg" alt="" class="wp-image-2135" srcset="https://adatpedia.com/wp-content/uploads/2023/05/jj.jpeg 1600w, https://adatpedia.com/wp-content/uploads/2023/05/jj-1536x1023.jpeg 1536w" sizes="(max-width: 1600px) 100vw, 1600px" /><figcaption class="wp-element-caption">Malin Deman didominasi oleh keluarga-keluarga petani, umumnya mereka menanam sawit. Foto: adatpedia.</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Portal multiplatform adatpedia.com merupakan bagian dari proyek “Mengembalikan Kedaulatan Pasca Kriminalisasi atas Hak Pangan dan Mata Pencaharian Masyarakat,” yang didukung Rights and Resources Initiative (RRI) melalui Program Strategic Response Mechanism (SRM). SRM adalah mekanisme keuangan yang dirancang untuk memungkinkan tanggapan yang fleksibel dan tepat waktu terhadap peluang dan ancaman yang tidak terduga atas masalah yang dihadapi masyarakat adat/lokal.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>(rilis)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">2132</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Keturunan Patih Nang Sabatang</title>
		<link>https://adatpedia.com/keturunan-patih-nang-sabatang/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Editor]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 12 Apr 2023 17:31:51 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Narasi]]></category>
		<category><![CDATA[Adatpedia]]></category>
		<category><![CDATA[Hutan Adat]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
		<category><![CDATA[Riau]]></category>
		<category><![CDATA[Talang Mamak]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://adatpedia.com/?p=2091</guid>

					<description><![CDATA[Saya melewati beberapa hari di rumah Gundok. Kami kerap berdiskusi tentang kepemimpinan adat. Menurut Gundok, kepemimpinan adat, seperti yang diuraikan sebelumnya, memang dipimpin oleh Tiga Payung Sekaki, yakni: Batin Talang Parit, Batin Talang Perigi dan Patih Durian Cacar. Dulunya, kisah Gundok, orang Talang Mamak berkembang dari ayah yang berasal dari Minangkabau. Orang Talang Mamak menyebutnya [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Saya melewati beberapa hari di rumah Gundok. Kami kerap berdiskusi tentang kepemimpinan adat. Menurut Gundok, kepemimpinan adat, seperti yang diuraikan sebelumnya, memang dipimpin oleh Tiga Payung Sekaki, yakni: Batin Talang Parit, Batin Talang Perigi dan Patih Durian Cacar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dulunya, kisah Gundok, orang Talang Mamak berkembang dari ayah yang berasal dari Minangkabau. Orang Talang Mamak menyebutnya Patih Nang Sabatang. Di Talang Mamak, Patih Nang Sabatang memiliki tiga orang anak. Tiga anak itulah yang lantas berkembang menjadi orang Talang Mamak. Mereka dikenal dengan sebutan Patih Nang Betiga.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Patih Nang Betiga lantas dikenal dengan Payung Tiga Sekaki. Mereka adalah para patih yang berkedudukan di Durian Cacar, Talang Perigi dan Talang Parit. Patih Durian Cacar dikenal dengan Patih Sebunga, Patih Talang Perigi dikenal dengan sebutan Patih Sebesi dan Patih Talang Parit dikenal dengan sebutan Patih Kelopak.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketiganya menunjukkan tingkatan mulai dari anak termuda hingga yang paling tua. Menurut Gundok, pendahulunya di Talang Mamak memercayai bahwa Patih Sebunga adalah anak yang paling muda dan Patih Kelopak adalah anak yang paling tua. Ketiga anak Patih Nang Sabatang lantas menduduki wilayahnya masing-masing.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Rapan, di Talang Perigi mengakui bahwa keturunan orang Talang Mamak berasal dari ayah orang Minangkabau. Kedekatan pertalian darah ini membuat sebagian besar adat istiadat orang Talang Mamak memiliki kemiripan dengan adat istiadat orang Minangkabau.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam Tambo Adat Minangkabau, Patih Nang Sabatang dikenal dengan sebutan Parpatih Nan Sabatang. Selain itu, di Minangkabau juga dikenal adanya Parpatih Ketemanggungan. Kedua Parpatih ini lantas memiliki keturunan dan membentuk adat istiadat sendiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Kalau ibu berasal dari keturunan Arab, bernama Putri Indah Jalilah,” tandas Rapan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sejauh ini, belum terkonfirmasi keturunan orang Talang Mamak dari garis ibu. Kecuali apa yang disebutkan Rapan, ada pula yang menyebut ibu orang Talang Mamak berasal dari Johor, sebagian lagi mengatakan dari Malaka.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Salah satu catatan mutakhir menyebut: Patih Nang Sabatang menikahi Putri Indah Jalilah, anak Raja Langka (sekarang di Johor, Malaysia) dan cucu anak Adam-Hawa yang bungsu. Dengan demikian Patih Nang Sabatang menikahi keponakannya sendiri [6].</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kembali pada Payung Tiga Sekaki, dua di antaranya kemudian dikenal dengan sebutan Batin, sementara di Durian Cacar, pemerintahan adat masih dikepalai oleh Patih.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tak ada penjelasan perubahan itu. Saya mencoba mengonfirmasi sejarah itu kepada literatur tertulis, juga tidak ditemukan. Saya bahkan menemui Batin Talang Parit, Irasan, juga tak ada informasi. Saya juga tak menjumpai informasi itu dari Rapan, Batin Talang Perigi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menurut mereka, perubahan itu sudah terjadi sejak lama. Budaya oral orang Talang Mamak tidak merekam oleh siapa dan kapan perubahan nama itu terjadi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dongeng sejarah yang saya dengar dari beberapa sumber informasi menyebut ada tiga versi sejarah perubahan nama tersebut. Versi pertama mengisahkan pertemuan Patih Sebunga (Patih Durian Cacar) dengan Datu Bagigi Tunggal. Sang Datu kemudian merubah nama gelar untuk Patih Kelopak dan Patih Sebesi menjadi Batin, tapi tidak merubah penyebutan untuk Patih Sebunga. Kendati Patih Sebunga adalah saudara yang paling kecil, tapi Datu Bagigi Tunggal memercayai bahwa kepercayaan Langkah Lama akan terus dipertahankan oleh Sang Adik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Beberapa kali istilah Langkah Lama muncul dalam catatan ini. Saya akan menjelaskan Langkah Lama dalam catatan tersendiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Versi kedua menyebut, gelar Patih Sebunga tidak diganti karena telah dimandatkan oleh ayah mereka, Patih Nang Sabatang. Menurut sumber itu, Patih Nang Sabatang memerintahkan dua anak pertamanya menjadi Batin dan menetapkan gelar Patih bagi anak bungsunya itu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sumber informasi ini tidak menyebutkan alasan peruahan nama yang dilakukan Patih Nang Sabatang. Sumber ini hanya menyebut bahwa kejadian itu sudah berlalu dan tidak ada pertinggal yang dituliskan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Versi ketiga menyebut perubahan ini berkait dengan keinginan Raja Indragiri menangkap gajah putih. Raja telah meminta Patih Sebesi dan Patih Kelopak mencari dan menangkap gajah putih. Keduanya lantas menunaikan perintah Raja.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di dalam hutan, keduanya berhasil menangkap gajah putih. Gajah itu masuk ke dalam lubang perangkap. Agar gajah tak lari, maka lubang itu ditutup dengan kain bewarna kuning dan hitam.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Patih Sebesi dan Patih Kelopak kembali ke kampungnya masing-masing. Mereka memberitakan kepada Raja bahwa gajah putih telah ditangkap dan sekarang berada dalam lubang bertutup kain kuning dan hitam.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun ketika Raja mendatangi lubang dimaksud, Raja mendapati lubang itu kosong, tidak ada gajah putih. Sementara kain penutup bewarna kuning dan hitam masih berada pada tempatnya, bahkan tidak menunjukkan tanda kerusakan. Gajah itu telah melarikan diri secara ajaib. Hal ini membuat Raja marah. Kemarahan Raja membuat Patih Sebesi dan Patih Kelopak tak lagi menyandang gelar Patih, mereka menjadi Batin.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Terlepas dari berbagai versi itu, Ketiga Patih, lanjut Gundok, memiliki anak dan keturunan. Keturunan mereka menyebar sepanjang wilayah adat orang Talang Mamak yang kini dikenal sebagai Kabupaten Indragiri Hulu. Sebagian lagi mereka telah bermigrasi hingga ke Kabupaten Tebo di Jambi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Keturunan Patih Durian Cacar, lanjutnya, menyebar hingga ke Batang Tenaku, Rantau Langsat, Dinala Pasak Melintang, Tujuh Buah Tangga, Ampang Delapan dan Anak Talang. Sementara itu, keturunan Batin Talang Perigi menyebar hingga ke Kedabu, Pembubung, Talang Siambul dan Dua Puluh Patar. Keturunan Batin Talang Parit menyebar melewati wilayah-wilayah Talang Jerinjing, Talang Sungai Limau, Muke Muke, Belimbing dan Sungai Jirak.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Masing-masing wilayah kemudian membentuk pemerintahan adat sendiri. Karena kebutuhan akan ruang semakin meningkat, masing-masing kebatinan memperluas wilayah pemerintahan adatnya. Penyebaran ini dilakukan oleh anak keturunan selanjutnya, yakni para cicit dari Payung Tiga Sekaki.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di Batang Tenaku, wilayah adat meluas hingga ke wilayah Sipang dan Alim. Di Rantau Langsat meluas hingga ke wilayah Talang Lakat dan Usul. Semuanya berada dalam satuan struktur adat di bawah kepemimpinan Patih Durian Cacar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sementara itu, pada pemerintahan Kebatinan Talang Perigi, penyebaran wilayah dilakukan hingga Pembubung dan Talang Siambul. Dari Pembubung, muncul dua kebatinan lain, yakni di wilayah Menggayahan dan Tenaku Kecik. Dan dari Talang Siambul menyebar ke wilayah Ringin dan Lemang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada Kebatinan Talang Parit juga terjadi perluasan wilayah kebatinan. Kebatinan Muke Muke menyebar hingga ke Pejangki dan Belingan. Ditambah dengan perluasan Kebatinan Belimbing ke wilayah Siberida.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pertanyaan pertama yang mungkin muncul adalah, mengapa ada Raja Indragiri dalam struktur tersebut? Hal ini akan dijelaskan nanti. Struktur Kebatinan Masyarakat Adat Talang Mamak sesungguhnya hanya yang berada dalam kotak bergaris tebal bewarna biru tua. Di dalam kotak itu, terlihat jelas struktur Kebatinan yang merujuk pada silsilah keturunan orang Talang Mamak.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Kami hanya mengakui batin yang menjunjung tinggi garis keturunan, curaian dan sejarah,” ungkap Irasan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Curaian, dalam hal ini adalah penuturan adat yang disampaikan pihak-pihak yang berkompeten seperti Batin atau Patih. Curaian adat bukan hanya berisi sejarah keturunan, tapi lebih jauh dari itu, berisi pula petatah petitih yang rumit. Kadang, mencoba mengerti curaian adat Talang Mamak mengharuskan saya mengulang-ulang kembali rekaman suara, atau bertanya ulang pada sumber bersangkutan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam bahasa Indonesia, kata curaian berarti paparan yang sangat jelas, sangat terang. Di Talang Mamak, arti kata curaian lebih dalam, dan mendetil tentang keturunan berikut dengan pantun adat yang rumit.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Catatan kaki</p>



<p class="wp-block-paragraph">6. Akhwan Binawan , Budy Utamy, Gilung, Muntaza dan Pengurus Daerah AMAN INHU, dalam Identitas Orang Talang Mamak Dan Wilayah Adatnya, dipublikasikan AMAN INHU tahun 2015.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>*Tulisan ini merupakan bagian dari Buku Talang Mamak di Tepi Zaman karya Syafrizaldi Jpang, yang diterbitkan oleh AsM Law Office bekerjasama dengan Rights and Resources Initiative pada 2020. Adatpedia.com akan menerbitkan 10 seri dalam buku tersebut secara bersambung</strong>&nbsp;<strong>setiap minggu</strong>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">2091</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Hierarki Penata Teritori</title>
		<link>https://adatpedia.com/hierarki-penata-teritori/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Editor]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 21 Mar 2023 11:02:40 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Narasi]]></category>
		<category><![CDATA[Adatpedia]]></category>
		<category><![CDATA[Hutan Adat]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
		<category><![CDATA[Pilihan Editor]]></category>
		<category><![CDATA[Riau]]></category>
		<category><![CDATA[Talang Mamak]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh Adat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://adatpedia.com/?p=2075</guid>

					<description><![CDATA[Di rumah Batin Gundok, Sagaf menyampaikan pengantar melalui pepatah adat. Saya tak begitu paham yang dia ucapkan, tapi secara keseluruhan saya memahami, Sagaf sedang bertemu dengan pucuk pimpinannya. Gundok tersenyum, dia membalas pengantar Sagaf. Lagi dengan pantun dan pepatah yang sulit dimengerti. Intinya, Gundok menyampaikan bahwa dia dan keluarganya sangat senang menerima saya sebagai tamu [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Di rumah Batin Gundok, Sagaf menyampaikan pengantar melalui pepatah adat. Saya tak begitu paham yang dia ucapkan, tapi secara keseluruhan saya memahami, Sagaf sedang bertemu dengan pucuk pimpinannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Gundok tersenyum, dia membalas pengantar Sagaf. Lagi dengan pantun dan pepatah yang sulit dimengerti. Intinya, Gundok menyampaikan bahwa dia dan keluarganya sangat senang menerima saya sebagai tamu mereka.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saya berpelukan dengan Gundok. Kami pernah bertemu beberapa kali dalam kesempatan lain. Namun baru kali ini saya punya kesempatan menyambangi rumahnya. Saya berbasa-basi, menanyakan kabar keluarga dan kesehariannya. Gundok tampak senang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kami lantas berbicara tentang jauhnya perjalanan yang harus saya tempuh. Dari Pekanbaru, Rengat mencapai jarak lebih dari 200 kilometer. Dari Rengat, saya harus menempuh jalan aspal bagus menuju Belilas, lalu melewati pusat Kecamatan Rakit Kulim sebelum singgah di rumah Sagaf dan sampai di rumah Batin Gundok.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dia tersenyum. Ya, jawabnya, jalanan di sini tidak sama seperti di kota yang beraspal hitam. Di Ampang Delapan, jalan tanah kuning yang dikeraskan sudah sangat menguntungkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Berkait jalan, saya dan Gundok menyambangi Hutan Adat Durian Di Rawang beberapa kilometer dari rumahnya beberapa hari kemudian. Dalam perjalanan kami menuju hutan adat, saya mendapati bahwa jalan di kampung Gundok memang mestinya menjadi isu utama. Betapa tidak, tak satupun jalan yang kami lewati yang tersentuh pengerasan jalan. Bahkan tak juga kerikil. Yang ada hanyalah bekas rambahan dan pembukaan jalan baru. Sama sekali belum ada pengerasan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kami berhenti di beberapa titik. Hujan dan air limpasan agaknya telah menyeret tanah sehingga membentuk lubang menganga. Beruntung karena saya membawa kendaraan lapangan Land Rover. Jadi tak banyak kendala di jalan. Sahabat saya, Otoy, mengendalikan mesin tua keluaran tahun 1981 itu dengan lincah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kembali ke rumah Gundok, dia masih bercerita tentang pertemuan terakhir kami. Saya menangkap kesan, Gundok adalah seorang yang cerdas. Dia bisa mengingat detil pembicaraan kami tentang janji saya untuk datang ke kampungnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Untung di antar Sagaf. Kalau tidak, mungkin tidak saya terima,” canda Gundok.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sagaf tersenyum. Dia menimpali, kalau tidak, mungkin bisa kena usir. Kami tertawa bersama. Tapi saya masih mencoba menyesuaikan gelombang pembicaraan. Sagaf beberapa kali menyela pembicaraan itu dengan sikap hormat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada akhirnya, Sagaf pamit pulang karena hari telah menjelang petang. Dia meninggalkan saya dan Otoy di rumah Gundok. Istri Gundok tersenyum bersama seorang anaknya. Kami melepas kepergian Sagaf.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Rumah Gundok, agak mirip rumah Sagaf di bagian dalam. Hanya ada sebuah ruangan besar seukuran sembilan kali sembilan meter per segi. Rumah itu dilengkapi sebuah beranda yang terletak persis di depan pintu masuk. Di sebelah dalam, ada sebuah ruang tak bersekat berukuran tiga kali sembilan meter per segi. Ruang itu hanya dibatasi sebuah balok kayu yang posisinya lebih tinggi sekitar sepuluh senti meter dari lantai.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Ini balok pembatas,” kata Gundok.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ruangan yang dibatasi balok itu hanya boleh ditempati oleh kaum laki-laki. Saya memerhatikan sepanjang tinggal di rumahnya, tak sekalipun istri Gundok melewati batas itu untuk duduk bersama kami. Kalaupun kami tengah berdiskusi, istrinya memilih untuk duduk di bagian belakang yang dekat dengan sebuah kamar, atau duduk di posisi yang dekat dengan pintu belakang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menurut Gundok, orang Talang Mamak kerap berkumpul malam hari. Biasanya pembicaraan seputar adat dilakukan di rumah batin. Dan, hanya ruang depan yang dibatasi balok kayu itu yang digunakan untuk duduk. Perempuan tak pernah duduk di dalam ruang berpembatas itu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saya beruntung karena diantarkan oleh Sagaf. Kendati saya sesungguhnya menuai janji dengan Gundok untuk bertandang ke rumahnya. Tapi secara adat, saya tidak mungkin datang sendiri langsung ke rumah Gundok.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Gilung telah mengatur supaya saya diantarkan oleh Sagaf, kakaknya. Mengapa Sagaf? Karena dalam struktur Kebatinan Adat Ampang Delapan, Sagaf menjabat sebagai Pemangku atau Mangku, posisinya persis di bawah Batin. Saya mungkin saja diantarakan oleh Ketuha Adat ke rumah Batin Gundok, tapi Gilung beranggapan bahwa akan lebih baik saya diantar langsung oleh Pemangku.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Begitulah. Orang Talang Mamak hidup dalam hierarki kepemimpinan oligarki [5]&nbsp;yang kuat. Mungkin bila mana saya tidak diantarkan Sagaf, pembicaraan dengan Gundok akan berlangsung kering dan tertutup. Artinya, akan sulit menggali informasi tentang masalah yang berkaitan dengan adat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Gundok mengonfirmasi hal tersebut. Menurutnya, segala sesuatu yang dibawa bawahannya – Mangku atau Manti – adalah hal yang bersifat final. Jikapun ada pertimbangan lain, itu adalah hak prerogatif dirinya sebagai Batin.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Demikian pula halnya dengan struktur di bawah Mangku atau Manti, Ketuha Adat datang pada Mangku dan Manti setelah semua urusan diselesaikan. Jikapun ada yang belum beres, maka Mangku atau Manti akan membantu menyelesaikan sebelum dibawa ke tingkat Batin.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Kami para Batin hanya menerima buah masak,” katanya berkias.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saya dan Gundok terlibat pembicaraan panjang dan serius. Struktur Kebatinan yang disampaikan Gundok saya konfirmasi ke beberapa Batin lain guna mendapat masukan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi Gundok, struktur kepemimpinan adat di wilayahnya memberikan keleluasaan bagi para pemimpin di bawah Batin untuk mengembangkan pertimbangan-pertimbangan yang arif dan adil. Dia percaya, para pengisi struktur pemerintahan batin itu memudahkan pengambilan keputusan. Karena tidak semua persoalan akan sampai ke tangan Batin, kecuali untuk persoalan-persoalan pelik yang membutuhkan penerawangan lebih lanjut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Penerawangan, saya ingin sedikit berbagi soal ini. Penerawangan dalam pengertian bebas berarti sesuatu yang dilakukan oleh seseorang untuk melihat masa depan. Ini agak mirip dengan ramalan, tapi terawangan sepertinya bersifat lebih magis.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ya, Gundok membenarkan. Penerawangan yang dia lakukan adalah untuk meminta pendapat arwah leluhurnya. Setidaknya, sedikit bocoran untuk masa depan dari keputusan yang dia ambil.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Orang Talang Mamak, hidup dalam tuntunan arwah leluhur. Kami percaya leluhur kami terus membantu,” kata Gundok.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Batin, lanjut dia, dibantu oleh dukun dan orang pintar yang akan menerawang dampak dari berbagai keputusan yang akan dia ambil. Dukun dan orang pintar memiliki kemampuan untuk menelisik masa depan. Dengan itu, Gundok merasa percaya diri memutuskan berbagai macam hal yang sampai ke rumahnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketuha Adat diangkat oleh masyarakat berbasis keluarga tertentu. Mereka memimpin para Anak/Bapak. Kelompok ini disebut dengan Ninik Mamak. Ninik Mamak adalah para pewaris dari keluarga-keluarga tertentu yang memiliki hubungan darah dan kekerabatan sangat dekat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lagi, ini sedikit ada persamaan dengan fungsi Ninik Mamak di Minangkabau. Ninik Mamak di Mingkabau adalah sekumpulan orang yang memiliki hak pengambilan keputusan bersama dalam keluarga. Para Ninik Mamak biasanya dipimpin seorang Datuk.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kecuali itu, di Batang Tinaku agak berbeda. Pimpinan tertinggi disebut Muncak. Di bawahnya ada Mangku dan Manti. Ada juga dukun sebagai pembantu Muncak. Sementara Anak Bapak dan Ketuha Adat tidak ada, digantikan dengan Ninik Mamak.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Masing-masing Batin, menginduk pada salah satu Batin yang termasuk dalam Payung Tiga Sekaki. Gundok sendiri menginduk pada Patih Durian Cacar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Diskusi kami terus berkembang. Kadang saya melipir menanyakan keseharian Gundok. Kami terus mencoba mengakrabkan diri satu sama lain. Otoy terlibat pembicaraan ini dengan seru. Dia juga mengisahkan perjalanan orang tuanya ke Talang Mamak di zaman dulu. Menurut Otoy, kisah perjalanan orang tuanya itu telah menjadi inspirasi tersendiri buat dirinya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada akhirnya kami lelah. Tikar pandan yang telah membentang sebagai alas duduk kini telah berubah menjadi alas punggung. Kami merebahkan diri dalam lamun ketika malam menyergap.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Catatan Kaki:</p>



<p class="wp-block-paragraph">5. Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia, oligarki adalah pemerintahan yang dijalankan oleh beberapa orang yang berkuasa dari golongan atau kelompok tertentu. Sementara istilah oligarki mengandung pengertian sebentuk pemerintahan yang kekuasaan politiknya secara efektif dipegang oleh kelompok elit kecil dari masyarakat, baik dibedakan menurut kekayaan, keluarga, atau militer.</p>



<p class="wp-block-paragraph">(Bersambung)</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>*Tulisan ini merupakan bagian dari Buku Talang Mamak di Tepi Zaman karya Syafrizaldi Jpang, yang diterbitkan oleh AsM Law Office bekerjasama dengan Rights and Resources Initiative pada 2020. Adatpedia.com akan menerbitkan 10 seri dalam buku tersebut secara bersambung</strong>&nbsp;<strong>setiap minggu</strong>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">2075</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Puncak Cerita Talang Mamak</title>
		<link>https://adatpedia.com/puncak-cerita-talang-mamak/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Editor]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 10 Mar 2023 14:38:23 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Narasi]]></category>
		<category><![CDATA[Adatpedia]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
		<category><![CDATA[Talang Mamak]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh Adat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://adatpedia.com/?p=2053</guid>

					<description><![CDATA[Sagaf, 49 tahun, tinggal di Talang Ampang Delapan, berpuluh kilometer dari Rengat, ibukota Indragiri Hulu, Riau.&#160; Pagi itu, Rabu, 5 Februari 2020, dia sudah berada di kantor Aliansi Masyarakat Adat Nusantara Indragiri Hulu (AMAN INHU). Adiknya, Gilung, menelepon kemaren sore, mengundangnya datang untuk mendiskusikan beberapa hal. Kantor AMAN INHU berada di Belilas, sebuah ibukota kecamatan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"></p>



<p class="wp-block-paragraph">Sagaf, 49 tahun, tinggal di Talang Ampang Delapan, berpuluh kilometer dari Rengat, ibukota Indragiri Hulu, Riau.&nbsp; Pagi itu, Rabu, 5 Februari 2020, dia sudah berada di kantor Aliansi Masyarakat Adat Nusantara Indragiri Hulu (AMAN INHU). Adiknya, Gilung, menelepon kemaren sore, mengundangnya datang untuk mendiskusikan beberapa hal.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kantor AMAN INHU berada di Belilas, sebuah ibukota kecamatan di tepi jalan lintas timur Sumatera. Dari Ampang Delapan, Belilas dihubungkan dengan jalan aspal kasar sejauh 24 kilometer. Belilas tak jauh dari ibukota INHU, Rengat, jaraknya hanya sekitar 11 kilometer. Dari Rengat, Belilas dapat dicapai melalui simpang empat di Pematang Reba. Ampang Delapan, tempat tinggal Sagaf, masuk ke dalam lingkup administratif Desa Durian Cacar Kecamatan Rakit Kulim.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Gilung sendiri sesungguhnya berdomisili di Talang Perigi. Rumah Gilung dan Sagaf hanya terpaut sekitar 5 kilometer. Dari Talang Perigi, pusat Kecamatan Rakit Kulim, Ampang Delapan harus ditempuh melalui jalan tanah bewarna kuning. Jalan utama di Talang Perigi sudah diaspal, tapi aspalnya tak seluruhnya baik. Di beberapa tempat, lubang menganga.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pagi itu, Sagaf telah memulai segala aktivitas. Dia tengah berbicara dengan beberapa orang. Pembicaraan pagi itu berkisar seputaran pendataan sosial yang kini sedang dilakukan AMAN INHU.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tak lama, Gilung tampak bicara dengan saudaranya itu. Mereka baku mengerti, terbukti dengan anggukan kepala berkali-kali.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Nanti ke Ampang Delapan dengan kakak saya, Sagaf,” kata Gilung pada saya. Saya menurut apa yang dikatakan lelaki ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&nbsp;Perkenalan dengan Sagaf di kantor AMAN INHU kami lanjutkan Ketika kami sampai di rumahnya di Ampang Delapan, menjelang sore. Sagaf mengatakan, dirinya memang diminta Gilung mengantar saya ke rumah Batin Gundok, Kepala Kebatinan Ampang Delapan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Rumah Batin Gundok tak jauh dari rumah Sagaf. Keduanya dihubungkan dengan jalan tanah kuning. Di tepi kiri kanan jalan, kebun sawit merajai sebagian besar tutupan tanah. Ada beberapa tempat yang ditanami karet, ada pula kebun campur dan beberapa titik kelompok perumahan yang sepi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saya melewati jalanan aspal hitam pada mulanya, lalu dilanjutkan dengan melintasi jalan tanah kuning keras. Beberapa lubang yang menganga tampak kering. Hujan belum turun.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Memasuki perkampungan orang Talang Mamak, bayangan saya tentang masyarakat yang hidup terasing seketika buyar. Tak tampak kehidupan terasing itu kini. Yang ada hanyalah sekelompok masyarakat yang hidup jauh dari kata modern. Rumah-rumah bergerombol dan menumpuk di pusat-pusat pemukiman. Di antara kelompok-kelompok rumah, kebun sawit, karet dan lahan perkebunan menyelingi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di rumah Sagaf, dia menceritakan, dinamika Talang Mamak cukup membuat banyak pihak resah. Di internal sendiri, keresahan bermula dari kondisi adat yang belum sepenuhnya tersistematika dengan baik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kepemimpinan adat, lanjut dia, telah diperebutkan banyak pihak lantaran berbagai alasan. Dia tak mau merinci alasan apa saja yang berpengaruh. Namun secara tersirat, Sagaf mengatakan faktor ekonomi menjadi pemicu lunturnya kepemimpinan adat. Ekonomi maksudnya, siapa yang menjadi pemimpin akan berpeluang mendapatkan sumber-sumber <em>income</em> atau pendapatan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Akibatnya, struktur ini telah mengalami kemunduran. Banyak pihak kemudian mengaku sebagai Batin, Kepala Adat di wilayah Kebatinan. Wilayah kebatinan dikenal dengan istilah <em>luak batin</em>. Sementara <em>batin</em> sendiri adalah sebutan untuk kepala <em>luak batin</em>. <img loading="lazy" decoding="async" width="2" height="24" src=""><img loading="lazy" decoding="async" width="2" height="24" src="">&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kecuali itu, Sagaf juga menceritakan struktur utama dalam pemerintahan adat. Menurutnya, Talang Mamak dipimpin oleh tiga penghulu utama, mereka menyebutnya Patih. Tapi kini, istilah patih hanya digunakan untuk satu orang saja, yakni Patih Durian Cacar. Sementara yang lain tetap menggunakan istilah Batin, yakni Batin Talang Perigi dan Batin Talang Parit.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tiga kesatuan kepemangkuan adat ini dikenal dengan istilah Payung Tiga Sekaki. <em>Payung Tiga Sekaki</em>, mulanya adalah kakak beradik yang membentuk pemerintahan adat Talang Mamak.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bersumber dari ujaran adat1 yang disampaikan Irasan, Batin Talang Parit dan Rapan, Batin Talang Perigi:</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>“Kandal tanah Mekah, takilat Ujung Pandang, tarantang Pulau Jawa. Marabana Pulau Jawa, marabana Tiongkok, maapung-apung Benua Kaling. Kandal langkah antara gahap dengan tarang, bediri gunung marapi ganti tubuh. Kandal kuhala Sungai Limau, menjaram Sungai Tunu,</em></p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Kandal benua hawan, marabana tarikan tiang raya, malampu-lampu nagari Aceh.</em></p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Barulah kandal pulau nang lain-lain menjadi dua puluh lima kepulauan nang</em></p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>ditunggu dua puluh lima nabi.</em></p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Baru lah disebut samik basir alam takalimun, ka bawah salaman tujuh, ka atas ka pintu lawang langit, sampai keubun-ubun langit, kemudian diatur oleh Allah (Rasul).</em></p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Diteruskan oleh Patih Nang Sabatang,</em></p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Dari Patih Nang Sabatang ke Patih Nang Betiga, setelah itu diteruskan ke luak kebatinan.</em></p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Baikpun secara adat maupun kepercayaan Islam terikat langkah lama.”</em></p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Kalimat “Dari Patih Nang Sabatang ke Patih Nang Betiga,…”</em>, menunjukkan model kepemimpinan utama masyarakat adat Talang Mamak.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketiga pemimpin utama ini hingga hari ini masih ada di Talang Mamak. Irasan dan Rapan adalah dua di antaranya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Secara adat, Sagaf tak tidak bisa langsung berhubungan dengan kedua batin. Sagaf mesti menghadap dulu kepada Batin Gundok, kepala Kebatinan di Ampang Delapan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Agak rumit pada mulanya memahami struktur kebatinan di Talang Mamak. Saya dihadapkan pada minimnya sumber literasi yang menjelaskan hubungan adat dan istiadat orang Talang Mamak.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tak berapa lama di rumah Sagaf, kami beranjak ke rumah Batin Gundok. Sagaf mengatarkan saya. Kami menuruni tangga kecil di depan pintu rumah Sagaf. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Sambil menuruni tangga, Sagaf tampak tersenyum kecil. Dia agaknya memerhatikan tubuh saya yang gamang ketika menuruni tangga. Anak tangga di rumah Sagaf terbuat dari kayu bulat berdiameter sekitar 20 sentimeter. Pada bagian injakan kaki, Sagaf menoreh kayu hingga membentuk tangga kecil mirip torehan anak tangga yang ada di pohon kelapa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Rumah Sagaf sendiri merupakan rumah kayu persegi seukuran 12 kali 9 meter per segi. Tapak rumah dibuat agak tinggi dari tanah, sekitar setengah meter. Tapak rumah semacam itu – yang ditinggikan dari permukaan tanah – jamak ada di Talang Mamak.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dugaan saya, struktur rumah yang ditinggikan itu merupakan kebiasaan yang sudah ada sejak lama. Hal tersebut dikonfirmasi Batin Rapan. Menurut dia, rumah orang Talang Mamak memang didisain lebih tinggi dari tanah. Seperti kebanyakan rumah para peladang, lantai yang ditinggikan dari tanah berfungsi sebagai gudang dan menghindarkan diri dari serangan binatang buas.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tapi kini pondasi rumah yang ditinggikan bukan lagi berfungsi serupa. Di beberapa tempat, kolong rumah justru berfungsi sebagai kandang ayam.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kedatangan saya ke rumah Gundok sebetulnya ingin mengonfirmasi banyak hal berkait dengan adat, budaya dan ancaman yang ada di hadapan orang Talang Mamak.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ada banyak kisah bertebaran di lapangan. Saya masih dirundung penasaran dengan kisah-kisah orang Talang Mamak. Namun, saya mencoba kembali ke masa lalu. Pada 1930, seorang asisten residen Belanda bernama V. Obdeyn menceritakan tentang Langkah Lama. Dari penelusuran saya, Obdeyn tinggal di sekitar Japura atau Rengat selama beberapa waktu sebelum akhirnya menuliskan catatan bertajuk <em>De langkah lama der orang Mamak van Indragiri</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Catatan itu dipublikasikan dalam sebuah jurnal terbitan Masyarakat Seni dan Sains Kerajaan Bataviaasch di Jakarta (Batavia) tahun 1930. Obdeyn sendiri menyelesaikan tulisannya pada Februari di tahun yang sama. Dengan kemampuan Bahasa Belanda nol, saya memanfaatkan teknologi untuk memahami catatan Obdeyn.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Obdeyn dalam catatan pembukanya mengatakan Langkah Lama berarti kembali ke awal adat dan kebiasaan, adat Talang Mamak yang masih sangat terikat hingga kini. Orang Talang Mamak berjuang mempertahankan itu dari pengaruh Islam dan Sultan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bila Talang Mamak dilihat lebih kategoris, mereka dapat dibedakan menjadi kelompok Tiga Balai dan kelompok Bukit Tigapuluh. Kelompok Tiga Balai dikaitkan dengan pengertian pusat populasi dan kebudayaan Talang Mamak, sementara kelompok Bukit Tigapuluh lebih dikaitkan dengan daerah perluasan pemukiman serta isu hutan dalam konteks Taman Nasional Bukit Tigapuluh saat ini. Pemukiman Talang Mamak di Bukit Tigapuluh dapat dipandang sebagai pemukiman satelit dimana penduduk tetap merujuk dirinya ke Tiga Balai sebagai asal muasal penyebaran mereka.2</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saya sesungguhnya masih dilanda kebingungan ketika mulai mengkategorikan, siapa Talang Mamak sesungguhnya? Apa yang disampaikan oleh Kurniawan dan Marahalim Siagian dalam risetnya agak mencengangkan. Karena kategori ini dibuat berdasarkan wilayah, dalam artian sebagai pusat populasi dan kebudayaan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sementara, peneliti terdahulu, William Singletone ,3 justru menyarankan agar melihat hubungan ekonomi kelompok-kelompok non muslim dalam konteks budaya non muslim yang terisolasi di kedua sisi selat Malaka, termasuk wilayah Sumatera dan Malaysia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Talang Mamak, memiliki hubungan sejarah pembayaran upeti kepada kerajaan yang mengayomi mereka. Dalam konteks ini, kerajaan tersebut adalah kerajaan Indragiri. Singletone memfokuskan penelitian pada kelompok Tiga Balai dan hubungannya dengan Kerajaan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pemahaman mendalam terkait konteks ini, menurut Singletone sangat menarik jika ditilik dari hubungannya dengan Malaysia dan Minangkabau yang memperkenalkan Negara-serikat yang modern. Tapi saya tentu tak menyentuh ranah yang dia sebutkan itu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Gundok membenarkan, saban tahun, orang Talang Mamak membayar kepada Raja Indragiri berupa hasil bumi dan beras. Baginya, pembayaran ini bukan dimaksudkan untuk membayar upeti, tapi lebih pada penyelarasan hubungan alam manusia dengan alam gaib, dalam hal ini Allah, Tuhan Yang Maha Esa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Kami datang kepada Raja dua kali setahun, pada lebaran Idul Fitri dan Lebaran Idul Adha. Biasanya yang datang adalah Patih Durian Cacar, Batin Talang Perigi dan Batin Talang Parit,” ungkapnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hubungan antara kedua Batin dan Patih ini akan dijelaskan pada bagian yang lain. Tapi setidaknya, sebagai pengantar, ketiganya merupakan pemangku adat tertinggi di Talang Mamak.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam perjalanan saya, saya justru tertarik menilik pergeseran yang terjadi di Talang Mamak berkait pengelolaan sumber daya alam serta introduksi kepentingan ekonomi di dalam struktur budayanya. Hal ini tentu penuh dengan dinamika dan menarik jika dihubungkan dengan kondisi mutakhir orang Talang Mamak.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saya menyampaikan maksud itu kepada Gundok. Dia sedikit bingung dengan penjelasan saya. Apapun itu, intinya saya ingin sekali belajar pada orang Talang Mamak berhubungan dengan sejarahnya, adat istiadat, sistem kepercayaan serta ancaman atas eksistensi mereka.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Supaya bisa fokus, di awal ini saya mencoba memberi batasan wilayah adat orang Talang Mamak. Dalam konteks ini, saya tidak atau belum menyentuh komunitas Talang Mamak yang ada di Bukit Tigapuluh seperti yang diungkap Kurniawan dan Marahalim Siagian.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lantas, saya coba mendeliniasi wilayah pemahaman saya pada wilayah Tiga Balai yang disampaikan oleh Singletone. Tapi, lagi-lagi saya tak menemukan deliniasi yang tepat. Bahkan, dalam penelusuran lapangan yang saya lakukan, orang Talang Mamak sendiri masih belum mampu memberikan definisi yang tepat atas diri mereka dan wilayahnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Informasi yang berkembang justru ada yang bertolak belakang. Saya senang ketika Gilung datang mengonfirmasi. Menurut dia, yang disebut Tiga Balai adalah Balai di Benuawan yang berada di Talang Parit, Balai di Tariang Tiang Raya yang berlokasi di Talang Kedabu dan Balai Kuala Sungai Limau di Sungai Limau.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Saya sudah tanyakan kepada Batin di Talang Parit. Tiga Balai adalah balai yang berada di wilayah yang saya sebutkan tadi,” kata Gilung.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sementara, dari catatan Singletone, saya menangkap yang dimaksud dengan Tiga Balai adalah wilayah-wilayah dalam kekuasaan Raja Indragiri, yakni: Talang Durian Cacar, Talang Parit, Talang Perigi, Talang Kedabu, Talang Tujuah Buah Tangga, Talang Jerinjing, Talang Selantai, dan Talang Sungai Limau.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saya kebingungan dengan Talang Selantai yang dimaksud Singletone. Gilung menginformasikan, yang dimaksud Talang Selantai adalah wilayah yang kini disebut Desa Talang Selantai yang berbatasan dengan Desa Durian Cacar. Menurutnya, orang Talang Selantai sudah tidak mau lagi disebut sebagai orang Talang Mamak. Alasannya, mereka sekarang adalah penganut agama Islam, berbeda dengan kepercayaan Langkah Lama yang diyakini sebagai kepercayaan asli orang Talang Mamak.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Baiklah, di titik ini sudah sedikit ada gambaran tentang wilayah umum Talang Mamak. Saya fokus saja mengulik catatan tersisa di Payung Tiga Sekaki. Tapi sejujurnya, hal ini mesti diperdalam agar entitas orang Talang Mamak menemui titik temu. Catatan yang dikemukan Singletone penting menjadi rujukan, terutama kaitannya dengan kerajaan Indragiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kendati begitu, saya mendapat sedikit informasi tentang wilayah Tiga Balai dalam versi yang lain. Berbeda dengan versi yang diungkap Gilung sebelumnya. Menurut sumber informasi itu, Tiga Balai adalah wilayah yang mula-mula didatangi pendiri Talang Mamak, yakni Patih Nang Betiga, anak dari Patih Nang Sabatang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Wilayah itu adalah Talang Sungai Limau. Tiga Balai ada di wilayah Sungai Limau sebagai wilayah awal perkembangan orang Talang Mamak. Dari sini, terjadi perkembangan manusia hingga masing-masing anak mendirikan wilayah kekuasaannya sendiri, yakni: Talang Parit, Talang Perigi dan Talang Durian Cacar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selanjutnya, Obdeyn memberi keterangan tentang Suku Nan Anam yang berlokasi di Durian Cacar (pemukiman utama, kepala adat orang Talang Mamak bergelar Toe&#8217;/Datuk Patih), Talang Parit, Talang Perigi, Talang Kedabu, Talang Sungai Limau dan Talang Selantai. Masing-masing pemukiman dipimpin oleh seorang kepala yang disebut Penghulu atau Batin. Talang Perigi, Talang Parit dan Durian Cacar berfungsi sebagai ibu-kampung. Sementara Talang Kedabu, Talang Selantai dan Sungai Limau sebagai anak kampung. Wilayah ini juga dikenal dengan sebutan <em>anam (enam) suku atau suku nang anam</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Walau bagaimanapun mereka dipimpin oleh Toe’ (datuk) Patih. Orang mengatakan tentang suku nan anam juga sebagai suku tiga balai, ” kata Obdeyn.4</p>



<p class="wp-block-paragraph">Suku, dalam terminologi orang Talang Mamak adalah keturunan yang berbasis wilayah tempat tinggal. Sebagaimana diungkap Gundok, suku di Talang Mamak tidak dihitung berbasis garis keturunan, tapi dihitung berdasarkan daerah tempat tinggal. Dalam hal ini, suku nang anam adalah suku yang tersebar di 6 wilayah yang disebutkan sebagai ibu dan anak kampung.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mulanya, informasi tentang Batin dan Kebatinan cukup membingungkan. Saya dibingungkan dengan penyebutan Batin. Satu ketika, orang Talang Mamak yang saya temui menyebut Batin sebagai satuan wilayah adat. Baiklah, kata saya. Tapi di ketika lain, mereka juga menyebut Batin untuk menyebutkan nama gelar pemimpin adat tertinggi di wilayah itu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Cukup lama saya meresapi info ini. Pada akhirnya saya pahami, bahwa Batin adalah jabatan orang yang memimpin wilayah adat. Sementara Kebatinan saya simpulkan sebagai wilayah adat itu sendiri, banyak juga yang menyebutnya luak batin. Misalnya: Batin Gundok memimpin Kebatinan Ampang Delapan, atau Batin Irasan yang memimpin Kebatinan Talang Parit. Begitu pula yang lain.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Di beberapa tempat, Batin diganti namanya menjadi Ria, ada pula yang dipanggil Muncak,” kata Gundok.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ya, saya mengerti sekarang. Tapi menilik lebih jauh tentang struktur Pemerintahan Adat Kebatinan menjadi tantangan tersendiri. Saya dihadapkan pada berbagai informasi yang saling tumpang tindih. Beberapa informasi bahkan tampak samar dan absurd.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun baiklah, mari kita mulai petualangan ini. </p>



<p class="wp-block-paragraph">(Bersambung)</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>*Tulisan ini merupakan bagian dari Buku Talang Mamak di Tepi Zaman karya Syafrizaldi Jpang, yang diterbitkan oleh AsM Law Office bekerjasama dengan Rights and Resources Initiative pada 2020. Adatpedia.com akan menerbitkan 10 seri dalam buku tersebut secara bersambung</strong> <strong>setiap minggu</strong>. </p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">2053</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>

<!--
Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: https://www.boldgrid.com/w3-total-cache/?utm_source=w3tc&utm_medium=footer_comment&utm_campaign=free_plugin

Object Caching 73/75 objects using Redis
Page Caching using Disk: Enhanced 
Lazy Loading (feed)
Minified using Disk
Fragment Caching 2/2 fragments using Redis

Served from: adatpedia.com @ 2026-08-05 05:28:42 by W3 Total Cache
-->